TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

MSCI Hapus GOTO dan Turunkan CPIN, Mirae Asset Ungkap Potensi Outflow hingga Rp 1 Triliun

Nurdian Akhmad
13 August 2026 | 11:29
rubrik: Business Info
IHSG Berseberangan dengan Dow Jones

Ilustrasi rekomendasi saham hari ini. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil MSCI August 2026 Index Review memberikan tekanan terhadap pasar saham Indonesia. MSCI menghapus GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index dan menurunkan CPIN dari Global Standard Index ke Global Small Cap Index.

Perubahan tersebut berpotensi memicu arus dana keluar secara teknikal, meski dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan diperkirakan relatif terbatas dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan hasil review MSCI kali ini cenderung lebih negatif bagi pasar Indonesia. Selain perubahan pada GOTO dan CPIN, tidak adanya penambahan saham Indonesia ke Global Standard Index membuat tidak terdapat arus dana masuk yang dapat mengimbangi potensi outflow.

“MSCI August 2026 Index Review memberikan hasil yang lebih negatif bagi pasar Indonesia. Sesuai ekspektasi kami, CPIN turun dari Global Standard ke Small Cap, sementara risiko pada GOTO terealisasi dengan penghapusan dari MSCI Indonesia Investable Market Index,” ujar Rully.

Menurut Rully, keputusan MSCI menghapus GOTO berkaitan dengan rendahnya likuiditas saham tersebut setelah bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan risiko terhadap kemampuan investor pasif dalam mereplikasi indeks.

“MSCI secara spesifik menyebut rendahnya likuiditas akibat GOTO bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei sebagai penyebab potensi index replicability issues,” kata Rully.

Rully menilai dampak utama perubahan indeks tersebut bersifat teknikal, terutama melalui potensi passive outflow menjelang implementasi perubahan indeks pada akhir Agustus.

Namun, tekanan tersebut diperkirakan tidak serta-merta memberikan dampak besar terhadap IHSG secara keseluruhan karena arus dana keluar akan lebih terkonsentrasi pada saham-saham yang mengalami perubahan indeks.

BACA JUGA:   Volatilitas Tinggi, Mirae Asset Rekomendasikan Transaksi Jangka Pendek di Saham Berfundamental Kuat

“Dampak utama bersifat teknikal, dengan potensi passive outflow menjelang implementasi akhir Agustus. Tidak adanya penambahan saham Indonesia ke Standard Index juga berarti tidak terdapat offsetting inflow, sejalan dengan pembatasan MSCI yang masih berlaku,” ujar Rully.

Passive Outflow Diperkirakan Rp 500 Miliar-Rp1 Triliun

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, mengatakan besaran perubahan bobot Indonesia dalam indeks global menjadi salah satu alasan dampak hasil review MSCI kali ini diperkirakan tetap terbatas terhadap pasar secara keseluruhan.

Menurut Wilbert, bobot Indonesia dalam indeks Emerging Market diperkirakan turun dari sekitar 0,49% menjadi 0,46%.

Dari sisi arus dana keluar, Wilbert memperkirakan passive outflow sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun yang akan terjadi pada hari efektif rebalancing, yakni setelah perdagangan 31 Agustus.

“Dalam jangka pendek mungkin ada dampak terhadap sentimen karena memang tidak ada penambahan saham dan hanya terjadi pengurangan. Namun, dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan diperkirakan minimal dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung, seperti CPIN,” ujar Wilbert.

Dengan demikian, hasil MSCI August 2026 Index Review diperkirakan lebih memberikan tekanan pada saham yang mengalami perubahan klasifikasi maupun penghapusan dari indeks dibandingkan terhadap pasar saham Indonesia secara keseluruhan.

Menjelang review MSCI berikutnya pada November, Wilbert menilai Indonesia perlu menjaga kredibilitas pasar serta komunikasi antara regulator dan MSCI.

Menurutnya, perbaikan secara gradual pada aspek tersebut dapat membuka peluang bagi keputusan MSCI yang lebih positif ke depan. Kondisi tersebut juga berpotensi menjadi katalis tambahan bagi arus modal asing maupun pasar saham Indonesia secara keseluruhan.

Tags: MSCIPT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Previous Post

MSI Institute Gelar Training Kepatuhan ISO 37301 untuk PT Sucofindo Advisory Utama

Next Post

Hanwha Life Perkuat GRC untuk Jaga Kepercayaan Nasabah dan Keberlanjutan Bisnis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR