TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ketika Limbah Menjadi Penghasilan: Cara PDC Mendorong Masyarakat Naik Kelas

Albarsyah
31 August 2026 | 13:04
rubrik: CSR
Ketika Limbah Menjadi Penghasilan: Cara PDC Mendorong Masyarakat Naik Kelas

Bukan Sekadar Menyalurkan Bantuan, PDC Mengubah Persoalan Sosial dan Lingkungan Menjadi Peluang Ekonomi

Jakarta, TopBusiness — Sebuah botol berisi minyak jelantah mungkin terlihat tidak lebih dari limbah sisa aktivitas dapur. Namun, di tangan masyarakat binaan PT Patra Drilling Contractor (PDC), minyak tersebut dapat berubah menjadi lilin aromaterapi dan sabun yang memiliki nilai jual.

Di tempat lain, kedelai yang diolah menjadi tempe bukan hanya menjadi produk pangan. Melalui pendampingan, sebuah pesantren di Indramayu mengembangkan rumah produksi yang kapasitasnya meningkat berkali-kali lipat dan mulai memasuki pasar yang lebih luas.

Sementara itu, bagi penyandang disabilitas, pelatihan tata boga tidak berhenti pada keterampilan membuat makanan. Sebagian peserta mulai menjadikan keterampilan tersebut sebagai sumber penghasilan.

Tiga cerita itu memperlihatkan satu pendekatan yang sama: program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi diarahkan untuk menciptakan kemandirian.

Bagi PDC, keberhasilan program bukan diukur dari seberapa banyak bantuan yang tersalurkan, melainkan dari perubahan yang terjadi setelah program berjalan.

Direktur Keuangan dan Penunjang Bisnis PDC, Fitra Adriza, mengatakan perusahaan ingin memastikan program TJSL mampu memberikan manfaat yang bertahan lebih lama dari pada periode pelaksanaannya.

“Kami tidak ingin masyarakat terus-menerus bergantung pada perusahaan. Idealnya, setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, kelompok binaan memiliki kemampuan untuk mengelola usahanya sendiri, menghadapi tantangan, dan mencari peluang pengembangan baru.”

Pendekatan tersebut menjadi penting karena PDC beroperasi di berbagai wilayah dengan karakteristik masyarakat dan persoalan yang berbeda. Karena itu, setiap program diawali dengan pemetaan sosial untuk memahami kebutuhan, potensi sumber daya, serta peluang yang dapat dikembangkan.

Dari sana, intervensi dirancang agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program, tetapi ikut memiliki dan mengembangkan kegiatan yang dijalankan.

Dari Limbah Dapur, Lahir Peluang Baru

Cerita MALIKA menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi.

Program MALIKA (Mari Kelola Jelantah Kita) dikembangkan di Desa Buluh Manis dan Desa Petani, Kabupaten Bengkalis, Riau. Program tersebut berangkat dari minyak jelantah yang dihasilkan dari aktivitas operasional Food & Lodging Services (FLS) PDC.

Minyak jelantah memiliki persoalan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Namun, PDC melihat adanya potensi ekonomi dari material tersebut.

Masyarakat kemudian dilatih mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dan sabun. Tidak hanya teknik produksi, pendampingan juga mencakup aspek kewirausahaan, kualitas produk, pengemasan, dan pemasaran.

BACA JUGA:   PT Tamaris Hidro Tegaskan Komitmen Bisnis Berkelanjutan Lewat Program CSR

Hingga akhir 2025, sebanyak 32 liter minyak jelantah berhasil diolah, dengan nilai penjualan produk mencapai sekitar Rp75 juta.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.

“Ketika kedua hal itu dipertemukan, program tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Model seperti inilah yang ingin terus kami kembangkan,” ujar Fitra.

Bagi PDC, inilah praktik sederhana dari ekonomi sirkular: sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diberi fungsi baru dan sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

Pesantren yang Tak Hanya Mengajarkan, tetapi Juga Menghasilkan

Di Indramayu, pendekatan berbeda diterapkan melalui program TEMPESANTREN.

Program ini dikembangkan di Pondok Pesantren Tarbiatul Athfal dengan melihat potensi produksi tempe yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif.

PDC memberikan dukungan sarana produksi, pelatihan manajemen usaha, dan pendampingan bisnis. Hasilnya terlihat dari peningkatan kapasitas produksi.

Jika sebelumnya produksi berada di kisaran satu kuintal per minggu, kini kapasitasnya mencapai 1,6 ton per minggu.

Pertumbuhan juga terlihat dari sisi omzet. Pendapatan usaha meningkat dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp27 juta per bulan, sementara pemasaran telah menjangkau empat kecamatan.

Produk TEMPESANTREN juga telah memiliki NIB dan sertifikat halal, serta menjadi salah satu pemasok dalam program Makan Bergizi Gratis.
Menurut Fitra, peningkatan tersebut menunjukkan pentingnya membangun usaha secara menyeluruh.

“Bantuan sarana memang penting, tetapi itu saja tidak cukup. Kelompok binaan juga perlu memahami pengelolaan produksi yang baik dan higienis, perizinan, packaging, serta strategi pemasaran.”

Dengan pendekatan tersebut, pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran kewirausahaan bagi santri dan masyarakat.

PDC berharap TEMPESANTREN dapat berkembang menjadi ekosistem usaha yang memberikan manfaat lebih luas.

Ketika Keterampilan Menjadi Jalan Menuju Kemandirian

Cerita lainnya datang dari program Tata Boga Disabilitas.

Bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur, PDC memberikan pelatihan intensif selama sembilan hari kepada sembilan penyandang disabilitas.

Program dirancang agar peserta tidak hanya memiliki kemampuan membuat makanan, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjadikan keterampilan tersebut sebagai usaha.

Salah satu hasilnya terlihat dari Haykal, penyandang disabilitas pendengaran yang kini mampu menjual rata-rata 60 loyang pizza per bulan, dengan pendapatan sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta.

BACA JUGA:   Jalin Kerja Sama dengan Perusahaan Korea Selatan, Patra Drilling Contractor Segera Kelola Unit Usaha Baru

Peserta lain juga mengembangkan usaha kuliner seperti surabi, bolu, pisang cokelat, dan makanan ringan. Secara keseluruhan, pendapatan peserta tercatat meningkat hingga sekitar Rp6,8 juta per bulan.

Bagi PDC, angka tersebut memang penting. Namun, perubahan perilaku dan kepercayaan diri peserta menjadi capaian yang tidak kalah penting.

“Hal yang lebih bernilai adalah tumbuhnya keberanian peserta untuk berkarya, menawarkan produk, dan memperoleh penghasilan dari keterampilan yang mereka miliki,” kata Fitra.

Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak harus dimulai dari modal besar. Kesempatan, keterampilan, pendampingan, dan akses pasar dapat menjadi titik awal bagi seseorang untuk membangun kemandirian ekonomi.

Dari Minyak Jelantah ke Limbah Tekstil

Pendekatan ekonomi sirkular PDC kemudian diperluas.

Pada 2026, perusahaan mulai mengembangkan program pengelolaan limbah tekstil dengan memanfaatkan pakaian bekas pekerja PDC yang sudah tidak digunakan.

Material tersebut diolah kembali menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.

Langkah tersebut menunjukkan upaya PDC untuk melihat aktivitas perusahaan bukan hanya dari sisi operasional, tetapi juga dari potensi persoalan lingkungan yang dapat dihubungkan dengan pemberdayaan masyarakat.

“Kami ingin terus mencari potensi lain dari aktivitas perusahaan yang dapat dihubungkan dengan program pemberdayaan. Dengan cara ini, penyelesaian persoalan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penciptaan manfaat sosial dan ekonomi,” ujar Fitra.

Menantang Ketergantungan

Membangun kelompok usaha tentu tidak selesai setelah pelatihan berakhir.

Ada persoalan konsistensi kualitas, kapasitas produksi, manajemen, hingga akses pasar yang harus dijawab secara bertahap.

PDC melihat tantangan terbesar justru muncul ketika kelompok binaan harus berjalan tanpa ketergantungan kepada perusahaan. Karena itu, pendampingan diarahkan untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam mengelola usaha secara mandiri.

Digitalisasi pemasaran menjadi salah satu strategi yang akan dikembangkan. PDC juga akan memanfaatkan website dan media sosial perusahaan untuk membantu memperkenalkan produk mitra binaan kepada pasar yang lebih luas.

Selain itu, terdapat peluang untuk menghadirkan produk kelompok binaan dalam berbagai kegiatan perusahaan maupun kegiatan industri migas lainnya.

Namun, Fitra menekankan bahwa membuka akses pasar saja tidak cukup.

“Kami ingin membantu membuka pintu, tetapi kelompok binaan juga perlu dipersiapkan agar mampu memanfaatkan peluang tersebut secara berkelanjutan.”

Dengan kata lain, pasar hanya akan menjadi peluang apabila kelompok binaan siap menjaga kualitas dan kontinuitas produksi.

BACA JUGA:   Workshop ESG Integration in Construction, Produk Berkelas Mitra Binaan Patra Drilling Contractor Ikut Unjuk Gigi

Mengubah Cara Pandang tentang TJSL

Pendekatan PDC memperlihatkan pergeseran cara pandang terhadap program TJSL.

Program tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai bentuk pemberian bantuan, melainkan sebagai investasi sosial yang diharapkan menghasilkan perubahan jangka panjang.

Prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), yakni menciptakan nilai bersama bagi perusahaan dan masyarakat.

Dalam pendekatan ini, persoalan sosial dan lingkungan tidak dipandang semata sebagai beban, tetapi juga sebagai ruang untuk menciptakan solusi yang memiliki nilai ekonomi.

Minyak jelantah menjadi contoh paling sederhana. Limbah dari kegiatan operasional perusahaan dapat dikelola sekaligus menjadi bahan baku produk yang menghasilkan pendapatan bagi masyarakat.

Di sisi lain, TEMPESANTREN memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat diperkuat melalui kapasitas produksi, legalitas, dan akses pasar.

Sementara program Tata Boga Disabilitas menunjukkan bahwa kelompok yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ekonomi juga dapat menjadi pelaku usaha produktif.

Dari Penerima Manfaat Menjadi Penggerak Ekonomi

Pada akhirnya, target PDC bukan sekadar bertambahnya jumlah penerima manfaat.

Perusahaan ingin kelompok binaan berkembang menjadi pelaku usaha yang mampu menciptakan manfaat bagi dirinya, keluarga, bahkan lingkungan sekitarnya.

“Target kami adalah melahirkan pelaku usaha mandiri di setiap wilayah binaan yang mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Kami ingin manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta secara individu, tetapi berkembang lebih luas bagi keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” tutur Fitra.

MALIKA, TEMPESANTREN, dan Tata Boga Disabilitas memiliki konteks yang berbeda. Namun, ketiganya bertemu pada tujuan yang sama: menciptakan masyarakat yang lebih berdaya dan memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Bagi PDC, keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis.

Keberlanjutan juga berbicara tentang apa yang tersisa setelah sebuah program selesai: keterampilan yang tetap dimiliki, usaha yang terus berjalan, pasar yang semakin luas, dan masyarakat yang tidak lagi menunggu bantuan untuk bergerak.

“PDC tidak sekadar memberikan bantuan. Kami ingin memberikan keterampilan, kesempatan, pendampingan, dan akses pasar agar masyarakat mampu membangun masa depannya sendiri.”

Sebab, ukuran keberhasilan TJSL pada akhirnya bukan seberapa banyak yang diberikan perusahaan, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu tumbuh setelah bantuan itu diberikan.

Dan di titik itulah, penerima manfaat perlahan berubah menjadi mitra—bahkan menjadi penggerak ekonomi di lingkungannya sendiri.

Tags: pdc
Previous Post

Geser Paradigma Pengelolaan SDM, OT Group Adopsi Meta Human Energy Management

Next Post

Transnusa Tingkatkan Pengalaman Perjalanan Penumpang, Seluruh Penerbangan Singapura Beroperasi di Changi Terminal 4 Mulai 1 September 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR