TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ekspansi ke Bisnis Ritel dan SME, Bank Muamalat Andalkan GRC buat Jaga Pertumbuhan

Abi Abdul Jabbar Sidik
1 September 2026 | 16:11
rubrik: Business Info, Event, GCG
Ekspansi ke Bisnis Ritel dan SME, Bank Muamalat Andalkan GRC buat Jaga Pertumbuhan

Bank Muamalat menempatkan Governance, Risk, and Compliance (GRC) bukan sebatas instrumen pemenuhan regulasi, tetapi sebagai fondasi transformasi bisnis menuju segmen retail dan SME. Penguatan tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan syariah, hingga digitalisasi ikut menopang pertumbuhan pembiayaan, kualitas aset, dan permodalan perseroan.Hingga akhir 2025, pembiayaan mencapai Rp 18,5 triliun dengan laba sebelum pajak tumbuh 47,5% secara tahunan.

Jakarta, TopBusiness –  PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memperkuat penerapan Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai salah satu fondasi utama transformasi bisnis. Strategi tersebut berjalan beriringan dengan penguatan kinerja bank syariah pertama di Indonesia itu, khususnya dalam menggeser fokus bisnis dari korporasi menuju segmen retail dan SME.

Hingga Desember 2025, total pembiayaan Bank Muamalat tercatat mencapai Rp18,5 triliun. Pada periode yang sama, laba sebelum pajak tumbuh 47,5% secara year-on-year menjadi Rp30,1 miliar. Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada level 26,37%.

Direktur Kepatuhan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Karno mengatakan penerapan GRC di perseroan ditempatkan lebih jauh daripada sekadar kewajiban untuk memenuhi ketentuan regulator. Bagi bank syariah, menurutnya, tata kelola, pengelolaan risiko dan kepatuhan sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga amanah dalam menjalankan bisnis.

“Sebagai bank syariah dan tentunya bank syariah pertama di Indonesia, kami memandang bahwa GRC ini bukan hanya sekadar pemenuhan regulasi semata. Kami melihat penerapan GRC secara efektif menjadi wujud penting bagi kami untuk menjaga amanah dalam menjalankan bisnis sebagai bank syariah,” kata Karno dalam wawancara penjurian TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Majalah Top Business, Senin (31/8/2026).

Penguatan tersebut menjadi semakin strategis setelah Bank Muamalat mengusung visi baru “Jalan Hijrah Menuju Berkah” pada 2025. Bersamaan dengan itu, perseroan menjalankan transformasi dan refocusing bisnis dari segmen corporate menuju retail, consumer, dan SME.

Menurut Karno, perubahan arah bisnis tersebut membutuhkan tata kelola dan sistem pengendalian risiko yang berjalan seiring dengan ekspansi. Perseroan karena itu memperkuat peran Dewan Komisaris, Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk mengawal strategi bisnis, sekaligus mempertahankan tingkat permodalan pada posisi yang kuat.

“Di tahun 2025, seiring dengan perubahan visi kami menjadi ‘Jalan Hijrah Menuju Berkah’, kami melakukan transformasi besar dengan fokus ke segmen retail dan UKM. Sehingga penguatan tata kelola menjadi sangat penting untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Dari sisi governance, kami telah memperkuat peran Dewan Komisaris, Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah dalam mengawal strategi back to core,” ujar Karno.

GRC Mengawal Pergeseran Bisnis ke Retail

Perubahan fokus bisnis Bank Muamalat tidak hanya tercermin dari portofolio pembiayaan. Perseroan juga menempatkan manajemen risiko sebagai bagian yang melekat dalam proses ekspansi produk.

Di segmen retail, Bank Muamalat antara lain mengandalkan produk Multiguna iB Hijrah dan Solusi Emas Hijrah. Dalam presentasi penjurian, perseroan mencatat portofolio Solusi Emas Hijrah telah mencapai sekitar Rp1,1 triliun, atau meningkat hingga 33 kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan CAR yang tetap berada pada level 26,37% per akhir Desember 2025.

BACA JUGA:   Tren Hijrah, Bank Muamalat Tampung Pengalihan ke KPR Syariah

Karno menjelaskan, Bank Muamalat turut mengimplementasikan early warning system untuk menjaga kualitas pembiayaan. Proses pembiayaan juga semakin didigitalisasi sehingga proses bisnis dapat bergerak lebih cepat dengan tetap mempertahankan aspek keamanan dan pengendalian risiko.

“Dari sisi risk management, kami melakukan business refocusing dari corporate ke retail dengan produk unggulan seperti Multiguna iB Hijrah dan Solusi Emas Hijrah yang tumbuh secara signifikan di tahun 2025. Untuk menjaga kualitas pembiayaan, kami telah mengimplementasikan early warning system dan digitalisasi proses pembiayaan agar lebih cepat namun tetap aman,” jelas Karno.

Penguatan manajemen risiko tersebut menjadi salah satu bagian dari model GRC terintegrasi Bank Muamalat.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Hayunaji menjelaskan governance model perseroan dibangun mulai dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris, DPS hingga Direksi. Di bawahnya, perseroan menjalankan corporate governance dan risk governance sebagai bagian dari sistem pengendalian perusahaan.

Dalam corporate governance, Bank Muamalat memperhatikan tiga komponen utama, yakni governance structure, governance process, dan governance outcome. Sementara risk governance mencakup pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris, kecukupan kebijakan, prosedur dan limit, proses manajemen risiko, serta internal control.

“Dalam corporate governance ada tiga hal, yaitu governance structure, process, dan outcome. Sedangkan untuk risk governance ada pengawasan aktif dari Direksi dan Dewan Komisaris, termasuk komite-komite di bawah Direksi dan Komisaris, kemudian kecukupan kebijakan, prosedur dan limit, kecukupan proses manajemen risiko, serta kecukupan internal control,” kata Hayunaji.

Three Lines of Defense hingga Monitoring Digital

Bank Muamalat juga menerapkan pendekatan three lines of defense dalam mengelola risiko.

Pada lini pertama terdapat risk owner yang meliputi fungsi bisnis, operation, hingga IT. Lini kedua dijalankan oleh risk management dan compliance unit. Perseroan juga memiliki Fraud Detection Unit serta Operational Risk Champion yang melakukan pemantauan dan pelaporan sejumlah indikator risiko secara rutin.

Sementara lini ketiga ditempati internal audit yang memastikan proses tata kelola dan pengendalian risiko berjalan sesuai dengan kebijakan dan ketentuan yang berlaku.

Menurut Hayunaji, interaksi antara fungsi bisnis, Direksi, Komisaris, hingga komite terkait juga menjadi bagian penting dalam pengujian risk appetite perusahaan. Model tersebut kemudian diintegrasikan dengan strategi dan objective perusahaan, risk appetite framework, infrastruktur, proses hingga risk control system.

“Dari kita sendiri menerapkan pendekatan three lines of defense. First line-nya adalah risk owner, yaitu bisnis, operation dan IT. Kemudian second line ada risk management dan compliance unit. Di antara itu juga ada Fraud Detection Unit dan Operational Risk Champion yang memantau serta melaporkan beberapa indikator secara rutin. Pilar ketiga adalah internal audit yang mengaudit seluruh proses tata kelola dan pengendalian risiko,” tutur Hayunaji.

BACA JUGA:   Bank Muamalat Gandeng Tujuh Bank Syariah Kelola Pasar Uang

Penguatan tersebut juga bergerak ke ranah teknologi.

Bank Muamalat mengoptimalkan continuous auditing dan continuous monitoring berbasis teknologi informasi, sehingga aktivitas tertentu dapat dipantau secara real-time dari sisi IT. Sistem pengawasan teknologi juga menggunakan pola tiga lini pengendalian.

Dalam aspek operasi jaringan dan keamanan, pemantauan dilakukan 24 jam selama tujuh hari dalam sepekan, dengan mekanisme pelaporan hingga level Direksi dan Dewan Komisaris.
Digitalisasi sekaligus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional. Sejumlah proses administrasi yang sebelumnya membutuhkan tahapan panjang maupun dokumen hard copy mulai dialihkan ke proses digital agar eksekusi bisnis dapat berlangsung lebih cepat.

Maqashid Syariah Masuk Framework GRC

Sebagai bank syariah, Bank Muamalat juga membawa karakter berbeda dalam pengembangan framework GRC. Perseroan mulai mengintegrasikan maqashid syariah, risiko syariah, ESG, dan sustainable finance dalam kerangka pengelolaan perusahaan.

Karno mengatakan integrasi tersebut membuat pendekatan kepatuhan Bank Muamalat tidak berhenti pada standar perbankan secara umum. Seluruh pembiayaan perseroan, menurutnya, diarahkan tetap sesuai dengan prinsip syariah dan tidak memberikan ruang bagi aktivitas nonhalal.

“Kami juga sudah mulai mengintegrasikan risiko ESG dan risiko syariah ke dalam kerangka risk appetite perusahaan kami. Dari sisi compliance, seluruh pembiayaan Bank Muamalat 100%, insyaallah, sesuai prinsip syariah dan tidak ada toleransi untuk aktivitas nonhalal. Komitmen ini juga tercermin dari kepatuhan kami terhadap seluruh regulasi OJK, Bank Indonesia, dan fatwa DSN-MUI,” jelas Karno.

Dalam kerangka tersebut, prinsip maqashid syariah dikaitkan dengan dimensi environmental, social, and governanceserta dampaknya terhadap people, planet, dan profit. Orientasi bisnis dengan demikian tidak hanya diletakkan pada pertumbuhan keuntungan, tetapi juga keberlanjutan dan penciptaan manfaat yang lebih luas.

Bank Muamalat juga mencatat self-assessment GCG rating pada PK-2. Di sisi kepatuhan, perusahaan memiliki fungsi General Compliance and Governance, AML dan PTF, serta fungsi Sharia Compliance and Assurance. Whistleblowing system turut menjadi bagian dari infrastruktur governance perseroan.

Dari GRC ke Pertumbuhan Bisnis

Dampak penguatan GRC terlihat dalam sejumlah indikator bisnis yang disampaikan perusahaan.

Selain pembiayaan mencapai Rp18,5 triliun dan laba sebelum pajak tumbuh 47,5%, Bank Muamalat mencatat aset telah tumbuh menjadi sekitar Rp58,1 triliun. Perseroan juga mencatat pertumbuhan pembiayaan produktif mudharabah sebesar 42,9% yang diarahkan ke sektor riil dan UMKM.

Hayunaji menilai capaian tersebut menunjukkan integrasi risk management dapat berjalan bersama dengan inovasi produk dan transformasi portofolio.

“Dalam satu-dua tahun terakhir ini, kita bisa tumbuh, kita bisa switch, bergeser dari fokus ke korporasi menjadi ke SME dan retail, dan kita juga memperkuat budaya kepatuhannya dengan corporate culture yang lebih baik. Kemudian kita berhasil mengintegrasikan manajemen risiko dalam inovasi produk, seperti pembiayaan produktif mudharabah yang tumbuh 42,9% ke sektor riil dan UMKM, dan aset juga bertumbuh menjadi Rp58,1 triliun,” ujar Hayunaji.

BACA JUGA:   4 Hari, UMKM Cetak Ekspor Rp168 Miliar di Festival Ini

Transformasi tersebut juga diperkuat melalui perluasan ekosistem bisnis. Bank Muamalat memiliki jaringan di berbagai wilayah Indonesia dan menjalin kerja sama antara lain dengan Indomaret, Pos Indonesia, Pegadaian, dan Pinhome. Perseroan juga terus mengembangkan bisnis yang berkaitan dengan ekosistem halal serta haji dan umrah.

Ke depan, ekosistem halal, haji-umrah, dan sustainable finance menjadi area yang akan semakin diperkuat. Arah tersebut sejalan dengan posisi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai pemegang 82,69% saham Bank Muamalat.

Budaya Risiko Jadi Agenda Seluruh Karyawan

Pengembangan GRC pada akhirnya tidak hanya diletakkan dalam struktur, komite, maupun sistem teknologi.

Bank Muamalat berupaya membangun risk culture yang menjangkau seluruh organisasi. Edukasi budaya risiko dan kepatuhan dilakukan kepada karyawan melalui kegiatan offline maupun online. Perseroan juga menjalankan internal training, internal certification, penyegaran pengetahuan syariah, awareness program, video, podcast, email blast hingga sesi tatap muka yang diselenggarakan manajemen.

Setiap unit juga memiliki Operational Risk Champion yang berperan dalam mendeteksi, menganalisis, melaporkan, dan memitigasi risiko pada unit masing-masing. Dengan mekanisme tersebut, risk awareness tidak hanya menjadi tanggung jawab fungsi bisnis, risk management, maupun compliance, tetapi juga menjangkau support unit.

“Yang sudah kita lakukan dan semestinya akan terus kita lanjutkan adalah internalisasi budaya risiko. Jadi ini tidak hanya bisnis, tetapi seluruh perangkat dan seluruh staf. Kita juga punya internal training dan internal certification yang harus di-update secara berkala. Di setiap unit juga ada Operational Risk Champion untuk mendeteksi dan menganalisis risiko di setiap unit, jadi tidak hanya di bisnis tetapi juga di support unit,” kata Hayunaji.

Dengan strategi tersebut, Bank Muamalat ingin membawa penerapan GRC menuju leading practice, sekaligus mengintegrasikannya semakin dalam dengan ESG, sustainable finance dan pengembangan ekosistem halal serta haji-umrah.

Bagi perseroan, governance, risk, dan compliance pada akhirnya tidak berjalan sebagai tiga fungsi yang berdiri sendiri. Ketiganya ditempatkan sebagai satu kesatuan yang mengawal transformasi bisnis—mulai dari perubahan portofolio, inovasi produk, digitalisasi proses, penguatan budaya perusahaan hingga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Seperti ditegaskan Karno, arah tersebut tetap bermuara pada identitas Bank Muamalat sebagai bank syariah.

“Selaras dengan visi terbaru kami menjadi ‘Jalan Hijrah Menuju Berkah’, kami memegang teguh komitmen tata kelola yang bersih, berpijak pada pilar maqashid syariah. Kami hadir bukan sekadar untuk bertumbuh secara finansial, melainkan untuk menjaga serta mengalirkan berkah kehidupan, intelektual dan harta yang seluas-luasnya bagi umat,” pungkasnya.

Tags: PT Bank Muamalat Indonesia Tbk
Previous Post

OCBC One Connect 2026: Peluang Kolaborasi Bisnis Indonesia – China di Sektor EBT

Next Post

IHSG Menguat, Pasar Saham Awali September dengan Sentimen Positif

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR