Jakarta, Topbusiness — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia melalui penjajakan konektivitas dengan pasar global, perluasan pipeline perusahaan menuju Initial Public Offering (IPO), serta pengembangan basis investor di daerah. Sejalan dengan berbagai inisiatif tersebut, aktivitas perdagangan saham BEI juga mencatatkan penguatan sepanjang pekan 31 Agustus—4 September 2026.
Demikian disampaikan Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, di Jakarta.
Pada Selasa (1/9), BEI dan AlpacaDB, Inc. (Alpaca) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Main Hall BEI, Jakarta. MoU ini menjadi langkah awal bagi kedua pihak untuk bertukar pengetahuan dan menjajaki kerja sama dalam memperluas akses pasar modal lintas negara. Salah satu area yang dikaji adalah potensi akses bagi Anggota Bursa terhadap pasar efek luar negeri melalui mekanisme Penyaluran Amanat Luar Negeri (PALN).
Dalam tahap selanjutnya, BEI akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anggota Bursa, dan pemangku kepentingan terkait untuk mengkaji mekanisme yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan ketentuan yang berlaku. Bagi investor Indonesia, penguatan konektivitas lintas negara berpotensi memperluas pilihan investasi. Bagi pasar domestik, inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan integrasi dan daya saing pasar modal Indonesia di tengah semakin terhubungnya pasar keuangan global.
Dari sisi pasokan efek, BEI terus mendorong perusahaan potensial untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang. Pada Senin (31/8), BEI bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KemenUMKM) serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyelenggarakan Workshop Go Public: RISE to Initial Public Offering (IPO) di Bandung.
Sekitar 54 peserta dari berbagai perusahaan dan sektor usaha di Jawa Barat mengikuti kegiatan tersebut. Program ini memberikan pemahaman mengenai tahapan, persiapan, dan manfaat IPO, sekaligus mendorong perusahaan menengah untuk meningkatkan tata kelola, profesionalisme, daya saing, dan keberlanjutan usaha. Dalam kegiatan tersebut, BEI menekankan potensi Jawa Barat dengan basis investornya yang besar, mencapai 3.985.667 SID pada Juli 2026. Melalui kolaborasi ini, BEI, KemenUMKM, dan BRI mendorong semakin banyak perusahaan menengah untuk naik kelas, memperkuat daya saing, dan membangun bisnis berkelanjutan melalui IPO.
Sementara itu, pengembangan investor domestik terus dilakukan melalui perluasan literasi dan inklusi pasar modal hingga ke daerah. Pada Rabu (2/9) sampai dengan Jumat (4/9), BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) turut mendukung OJK dalam penyelenggaraan rangkaian Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 di Ternate, Maluku Utara. Rangkaian kegiatan tersebut menyasar berbagai kelompok masyarakat, mulai dari tenaga pendidik, generasi muda, dan masyarakat umum melalui Training of Trainers Pasar Modal Syariah, kuliah umum di Universitas Khairun, seminar Generasi Muda Ternate Melek Investasi bagi pelajar SMK Negeri 1 Kota Ternate, serta peresmian Galeri Investasi Edukasi (GIE) BEI SMKN 1 Ternate dan SMKN 8 Ternate.
Agenda tersebut juga dilengkapi dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam rangka HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia. Pada Jumat (4/9), BEI dan SRO menyerahkan bantuan sarana teknologi kepada Universitas Khairun di Kota Ternate untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Selanjutnya, pada Sabtu (5/9), bantuan pembangunan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan ikan akan diberikan kepada nelayan lokal di Ternate. Melalui kedua CSR tersebut, BEI dan SRO berkomitmen untuk terus menghadirkan kontribusi nyata pasar modal yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah.
