Jakarta, TopBusiness – Erupsi Gunung Anak Krakatau menciptakan sentimen berbeda di pasar saham. Gangguan penerbangan menjadi tekanan bagi emiten maskapai, sementara saham kesehatan justru diburu investor karena potensi meningkatnya kebutuhan masker, obat terkait gangguan pernapasan, dan produk kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga sejak 4 September 2026. Erupsi dan sebaran abu vulkanik kemudian mengganggu operasional penerbangan. Hingga Minggu (6/9/2026), pemerintah mencatat delapan bandara terdampak, dengan sekitar 1.558 penerbangan dan 170.000 penumpang terdampak.
Bagi emiten penerbangan, kondisi tersebut menjadi sentimen negatif karena pembatalan, penundaan, dan penjadwalan ulang penerbangan berpotensi mengganggu operasional. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menjadi dua saham yang berada dalam radar investor.
Dampaknya bahkan masih berlanjut pada Senin (7/9). AirAsia mengumumkan sejumlah penerbangan dari dan menuju Jakarta dibatalkan atau dijadwalkan ulang akibat sebaran abu vulkanik.
Sebaliknya, saham sektor kesehatan mendapat respons positif. IDXHEALTH menguat 2,78% pada perdagangan 7 September. BRI Danareksa Sekuritas menilai erupsi dan potensi penyebaran abu vulkanik dapat menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten healthcare yang memiliki eksposur pada masker, obat pernapasan, dan produk kesehatan terkait.
Pergerakan sejumlah saham menunjukkan respons tersebut. KAEF melonjak 21,59% menjadi Rp535 dari Rp440, dengan volume sekitar 19,81 juta saham.
KLBF menguat 1,94% menjadi Rp790 dari Rp775, dengan volume perdagangan sekitar 139,87 juta saham. Saham ini sempat menyentuh Rp820 sepanjang perdagangan.
Sementara itu, MEDS menjadi salah satu saham yang paling mencolok. Pada perdagangan pagi 7 September, saham produsen masker tersebut sempat melonjak 29,17% ke Rp93, dengan nilai transaksi sekitar Rp49,78 miliar.
Penguatan juga terjadi pada saham kesehatan lain yang masuk radar pasar, seperti TSPC, SIDO, MERK, dan INAF. BRI Danareksa Sekuritas memasukkan KLBF, KAEF, INAF, TSPC dan SIDO di antara emiten yang berpotensi memperoleh sentimen positif dari meningkatnya kebutuhan produk kesehatan.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai melakukan rotasi sektoral berbasis sentimen. Di satu sisi, maskapai menghadapi risiko gangguan pendapatan dan operasional akibat penerbangan yang dibatalkan atau dijadwalkan ulang. Di sisi lain, sektor kesehatan memperoleh ekspektasi kenaikan permintaan produk perlindungan dan pengobatan akibat paparan abu vulkanik.
Namun, investor perlu mencermati bahwa penguatan saham kesehatan tersebut masih lebih tepat dibaca sebagai katalis sentimen jangka pendek, bukan otomatis mencerminkan kenaikan laba. Besarnya dampak fundamental akan bergantung pada durasi erupsi, luas wilayah terdampak, serta seberapa besar kenaikan permintaan produk kesehatan.
Sebaliknya, bagi GIAA dan CMPP, durasi gangguan penerbangan menjadi faktor penting. Semakin lama bandara ditutup atau penerbangan terganggu, semakin besar potensi tekanan terhadap utilisasi armada dan pendapatan.
