Jakarta, topBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (10/9/2026) dengan tekanan cukup dalam. IHSG ditutup melemah 88,86 poin atau 1,33% ke level 6.589,33.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah. Berdasarkan data perdagangan yang tersedia, sebanyak 150 saham menguat, 516 saham melemah, dan 127 saham stagnan.
Aktivitas transaksi juga tergolong tinggi. Total volume perdagangan mencapai sekitar 47,12 miliar saham, sedangkan nilai transaksi tercatat sebesar Rp21,04 triliun.
Tekanan tersebut berlanjut dalam konteks pasar global yang kurang kondusif. Pada perdagangan Rabu (9/9), pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah, sementara harga minyak Brent telah menembus sekitar US$100 per barel. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Analisis: pasar memasuki fase risk-off
Koreksi IHSG sebesar 1,33% dengan 516 saham melemah menunjukkan tekanan perdagangan Kamis tidak hanya berasal dari satu atau dua saham besar. Jumlah saham turun yang lebih dari tiga kali lipat dibandingkan saham yang naik mengindikasikan adanya pelemahan pasar yang relatif luas.
Dengan volume mencapai 47,12 miliar saham dan nilai transaksi Rp21,04 triliun, koreksi juga berlangsung dalam kondisi aktivitas perdagangan yang tinggi. Ini mengindikasikan adanya perubahan posisi atau rebalancing portofolio yang cukup agresif, bukan sekadar perdagangan tipis akibat rendahnya likuiditas.
Faktor eksternal juga menjadi risiko penting. Harga minyak Brent yang berada di sekitar US$100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko sembari menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global. Samuel Sekuritas sebelumnya memperkirakan IHSG akan tertekan akibat sentimen negatif pasar global dan regional.
Dengan IHSG kini berada di 6.589,33, level psikologis 6.500 menjadi area yang patut diperhatikan investor. Jika tekanan jual berlanjut dan indeks menembus area tersebut dengan volume besar, risiko koreksi lanjutan akan meningkat.
Sebaliknya, apabila tekanan pada saham perbankan mulai mereda dan investor asing kembali melakukan akumulasi, IHSG berpeluang membentuk technical rebound. Katalis positif dapat berasal dari stabilisasi rupiah, penurunan harga minyak, serta membaiknya sentimen pasar global.
Untuk perdagangan berikutnya, investor perlu mencermati tiga faktor utama, yakni pergerakan saham perbankan big caps, aliran dana asing, dan harga minyak global. Ketiga faktor tersebut berpotensi menjadi penentu apakah koreksi IHSG akan berlanjut atau justru menjadi peluang bagi pasar untuk melakukan technical rebound.
