Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin (14/9/2026) di zona merah. IHSG dibuka turun 7,51 poin atau 0,11 persen ke level 6.533,87, dibandingkan posisi penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026) di level 6.541,38.
Indeks saham unggulan LQ45 juga bergerak melemah. LQ45 turun 0,74 poin atau 0,11 persen ke posisi 648,98.
Transaksi Awal Perdagangan
Pada menit pertama perdagangan, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia mulai menunjukkan peningkatan. Tercatat sekitar 361,7 juta saham berpindah tangan melalui 44.110 kali transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp248,4 miliar.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan pada awal sesi, sebanyak 249 saham menguat, 143 saham melemah, sedangkan 571 saham lainnya belum mengalami perubahan harga.
Beberapa menit setelah pembukaan, aktivitas perdagangan semakin meningkat. Volume transaksi tercatat sekitar 729,67 juta saham dengan frekuensi mencapai 68,70 ribu kali transaksi dan nilai transaksi sekitar Rp421,94 miliar.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan terus bertambah setelah pembukaan, seiring masuknya order investor pada awal sesi pertama.
Pergerakan Saham LQ45
Di jajaran saham LQ45, sejumlah saham bergerak cukup variatif pada awal perdagangan. Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat melemah 2,95 persen, diikuti Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang turun 1,89 persen dan Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang terkoreksi 1,06 persen.
Di sisi lain, Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menguat 2,47 persen. Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 2,25 persen, sedangkan United Tractors Tbk (UNTR) menguat 1,43 persen.
Pergerakan yang berlawanan di antara saham-saham berbasis komoditas menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya mengambil arah yang sama. Sebagian investor masih melakukan aksi beli pada saham tertentu, sementara saham lainnya menghadapi tekanan jual.
Sentimen Eksternal
Pergerakan IHSG pada awal pekan juga dipengaruhi oleh kondisi pasar global dan regional. Investor mencermati pergerakan bursa Asia serta perkembangan harga komoditas, khususnya minyak.
Harga minyak yang menguat dapat menjadi perhatian bagi pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global.
Investor juga menunggu agenda bank sentral utama dunia pada pekan ini, terutama Federal Reserve Amerika Serikat. Keputusan suku bunga bank sentral global menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan arah aliran dana ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari pasar valuta asing, rupiah pada awal perdagangan berada di sekitar Rp17.590 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sekitar Rp17.570,90 per dolar AS. Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor karena dapat memengaruhi sentimen terhadap aset domestik.
Analisis IHSG
Pelemahan IHSG sebesar 0,11 persen pada pembukaan masih tergolong terbatas. Tekanan tersebut juga belum menunjukkan dominasi penjualan secara keseluruhan karena jumlah saham yang menguat pada awal perdagangan masih lebih banyak dibandingkan saham yang melemah.
Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan indeks setelah pembukaan. Peningkatan volume, frekuensi, dan nilai transaksi dalam beberapa menit pertama menunjukkan adanya aktivitas reposisi portofolio yang cukup tinggi.
Secara teknikal, IHSG masih berpotensi bergerak sideways apabila belum mampu membentuk momentum penguatan baru. Area 6.450-6.500 menjadi zona yang perlu diperhatikan sebagai support, sedangkan area 6.600-6.700 dapat menjadi zona resistensi apabila indeks kembali menguat.
Apabila tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus level support, risiko koreksi lebih lanjut akan meningkat. Sebaliknya, apabila indeks mampu kembali bergerak di atas level pembukaan dan didukung peningkatan volume transaksi, peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka.
Untuk perdagangan Senin, investor dapat mencermati arah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan komoditas, karena pergerakan saham-saham tersebut berpotensi memberikan pengaruh cukup besar terhadap IHSG.
Selain itu, perkembangan nilai tukar rupiah, bursa Asia, harga komoditas, serta sentimen menjelang keputusan bank sentral global akan menjadi faktor penting yang menentukan arah IHSG hingga akhir sesi perdagangan.
