Jakarta, TopBusiness – Emiten perusahaan pembiayaan, PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA), membukukan laba bersih sebesar Rp1,53 miliar hingga Semester 1 – 2026, setelah mencatatkan rugi sebesar Rp82 miliar pada akhir tahun 2025.
Kerugian yang dicatatkan HDFA pada akhir tahun 2025 terutama dipengaruhi penambahan CKPN atas pembiayaan ke nasabah sebesar Rp86,7 miliar untuk meningkatkan pencadangan mengikut prinsip kehati-hatian.
Laba bersih di atas terbentuk atas implementasi rencana bisnis 2026 yang mengutamakan pembiayaan investasi alat berat & truk melalui produk Asset-based Financing (ABF) dan pembiayaan modal kerja sebagai produk pembiayaan pendamping.
“Tahun 2026 merupakan tahun ke-6 sejak HDFA memfokuskan diri kepada pembiayaan produktif dan sampai saat ini tetap konsisten dengan pembiayaan produktif,” tutur keterangan resmi perseroan, di Jakarta, dikutip Selasa (15/9/2026).
Hingga Semester 1 – 2026, HDFA telah menyalurkan pembiayaan baru sejumlah Rp1,64 trilliun kepada para nasabahnya.
Realisasi Pembiayaan untuk semester 1 ini sesuai dengan strategi perusahaan untuk lebih selektif dan berhati hati sesuai dengan keadaan pasar saat ini. Segmen usaha pada industri terkait sumberdaya alam, yaitu pertambangan dan perkebunan, mewakili hampir 50% dari portofolio pembiayaan HDFA.
Segmen usaha selanjutnya yang menikmati dukungan pembiayaan dari HDFA adalah Logistik (transportasi & pergudangan) serta Komunikasi dan Konstruksi.
Segmen-segmen usaha ini sejalan dengan penyumbang kegiatan ekonomi yang signfikan untuk Indonesia di mana sebagai negara dengan sumberdaya pertambangan untuk energi & mineral dan perkebunan, Indonesia adalah eksportir unggulan untuk batubara, timah, nikel, emas, tembaga, dan kelapa sawit.
Melihat akan potensi pertumbuhan kebutuhan investasi untuk alat berat & truk di Indonesia, baik untuk peningkatan kapasitas maupun untuk peremajaan armada, maka HDFA telah menempatkan perwakilan di Samarinda, Banjarmasin, Pontianak, dan Makassar.
Ini dilakukan untuk dapat melakukan komunikasi dan meningkatkan hubungan baik dengan para nasabah dan mitra terkait agar HDFA dapat memberikan solusi keuangan dengan cepat dan baik.
HDFA meyakini masih terdapat potensi pertumbuhan signifikan dari market saat ini, khususnya pelaku UKM dan wirastawan di daerah yang berada dalam value chain segmen segmen usaha yang akan bertumbuh sejalan dengan ekosistem yang berkembang.
Hingga Semester 1 – 2026, tingkat NPF-gross untuk portfolio produktif terjaga pada angka di 3,81%. Hal ini membuat angka NPF-nett keseluruhan terjaga di angka 2,62% pada Semester 1 – 2026.
Dari sisi posisi keuangan, Perseroan mencatatkan penurunan total aset sebesar 16,8% (yoy) menjadi Rp2.993 miliar dari posisi yang sama sebelumnya sebesar Rp3.596 miliar.
Piutang pembiayaan juga mengalami penurunan menjadi Rp2.609 miliar dari posisi sebesar Rp3.160 miliar di Juni 2025.
Liabilitas pada Semester 1 – 2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 17,2% (yoy) menjadi Rp2.500 miliar dari Rp3.019 miliar di Juni 2025.
HDFA beraspirasi untuk menyalurkan pembiayaan sebesar Rp4,1 triliun pada tahun 2026. Target ini terjadi sesuai dengan strategi perusahaan untuk lebih hati-hati dan selektif dalam menyalurkan pendanaan.
Perseroan akan terus memperkuat dua produk utama pembiayaan produktif yang saat ini dimiliki yaitu Asset-based Financing (ABF – pembiayaan investasi berbasis aset) dan pembiayaan modal kerja sebagai pendamping dari ABF.
Sebagai mitra dari perbankan untuk menjangkau dan mendukung pelaku usaha di Indonesia, HDFA terus menjaga dan mengembangkan hubungan baik & kemitraan dengan perbankan, nasional & internasional.
Dengan program pembiayaan yang menyasar kepada segmen-segmen usaha untuk industri andalan di Indonesia, HDFA menjadi mitra kerja strategis bagi perbankan untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam menumbuhkan ekonomi Indonesia dan berkontribusi kepada pertumbuhan kredit mereka.
