Jakarta, TopBusiness—Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan solid, pertumbuhan ekonomi tetap baik, dan stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Layaknya akar bambu yang kokoh untuk bertahan menghadapi tekanan namun lentur mengikuti arah angin.
“Demikian pula sistem keuangan kita dengan fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi guncangan, namun tetap responsif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M. Juhro, melalui keterangan resmi, hari ini.
Sistem keuangan yang resilien tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga harus mampu mengubah ketahanan sistem keuangan menjadi pembiayaan yang lebih kuat bagi perekonomian, demikian ditambahkan Solikin.
“Untuk mendukung momentum tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong intermediasi perbankan ke sektor-sektor produktif dan prioritas,” kata Solikin.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi), dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential principle).
“Dengan ketahanan yang solid dan ruang pembiayaan yang masih terbuka lebar, Bank Indonesia optimis kredit/pembiayaan perbankan pada tahun 2026 mampu tumbuh pada kisaran 8–12%.”
