Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/9/2026). IHSG turun 24,30 poin atau 0,38% ke level 6.436,85.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif IHSG menjadi enam hari perdagangan berturut-turut. Meski demikian, tekanan tidak terjadi secara merata pada seluruh saham di BEI. Hal itu terlihat dari jumlah saham yang menguat masih jauh lebih banyak dibandingkan saham yang melemah.
Data perdagangan BEI menunjukkan volume transaksi saham mencapai 24,43 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,12 triliun. Sebanyak 439 saham ditutup menguat, 201 saham melemah, sementara 151 saham lainnya stagnan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan sejumlah saham dengan kapitalisasi besar serta tekanan pada beberapa sektor utama. Dengan jumlah saham yang menguat mencapai lebih dari dua kali saham yang melemah, sentimen positif sebenarnya masih terlihat pada sebagian pelaku pasar.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar berasal dari sektor infrastruktur yang turun 1,39%. Sektor teknologi menyusul dengan pelemahan 1,13%, sedangkan sektor barang konsumen non-primer turun 1,12%.
Sektor properti dan real estat terkoreksi 0,78%, sektor energi turun 0,62%, sektor keuangan melemah 0,42%, barang baku turun 0,27%, kesehatan terkoreksi 0,24%, serta transportasi dan logistik turun 0,14%.
Sementara itu, dua sektor mampu bertahan di zona hijau. Sektor perindustrian menguat 0,91% dan sektor barang konsumen primer naik tipis 0,11%.
Sejumlah saham LQ45 juga mengalami tekanan cukup dalam. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi salah satu saham dengan penurunan terbesar, yakni 6,57% menjadi Rp370 per saham. Dengan demikian, harga saham DEWA turun sekitar Rp26 dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran Rp396.
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah 4,43% menjadi Rp1.510 per saham. Artinya, harga saham ADMR turun sekitar Rp70 dari posisi sebelumnya sekitar Rp1.580.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 2,88% menjadi Rp202 per saham. Dengan persentase penurunan tersebut, harga BUMI berkurang sekitar Rp6 dari posisi sebelumnya sekitar Rp208.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham justru mencatat penguatan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi salah satu saham yang mencuri perhatian setelah naik 4,09% ke Rp4.830 per saham. Kenaikan tersebut setara sekitar Rp190 dibandingkan harga sebelumnya sekitar Rp4.640.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga menguat 1,98% ke Rp5.150 per saham atau naik sekitar Rp100 dari posisi sebelumnya sekitar Rp5.050.
Selanjutnya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) naik 1,81% menjadi Rp7.025 per saham. Dengan demikian, harga saham ICBP meningkat sekitar Rp125 dari posisi sebelumnya sekitar Rp6.900.
Perbedaan antara pergerakan IHSG dan jumlah saham yang menguat menjadi salah satu hal penting dalam perdagangan hari ini. Secara sederhana, IHSG merupakan indeks yang sangat dipengaruhi oleh saham-saham dengan bobot kapitalisasi pasar besar. Karena itu, indeks dapat terkoreksi meskipun jumlah saham yang naik lebih banyak daripada saham yang turun.
Kondisi ini juga mengindikasikan adanya perbedaan kinerja antar saham dan sektor. Investor tampaknya masih melakukan seleksi terhadap saham tertentu, sementara sebagian saham lainnya mengalami aksi jual.
Tekanan pada sektor infrastruktur, teknologi, energi, dan keuangan turut menjadi perhatian karena sektor-sektor tersebut memiliki kontribusi terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan. Di sisi lain, penguatan sektor perindustrian dan barang konsumen primer menunjukkan masih adanya minat beli pada kelompok saham tertentu.
Faktor eksternal juga menjadi perhatian pasar. Pergerakan harga minyak dunia, perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve dapat memengaruhi arus dana investor ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi teknikal, posisi IHSG di 6.436,85 membuat area 6.400 menjadi level yang perlu diperhatikan dalam perdagangan selanjutnya. Apabila tekanan jual berlanjut, pelaku pasar akan mencermati kemampuan IHSG mempertahankan area tersebut. Sebaliknya, jika tekanan mereda dan minat beli kembali meningkat, IHSG berpeluang mencoba melakukan pemulihan.
Namun, arah perdagangan berikutnya masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan domestik serta pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
Dengan koreksi selama enam hari berturut-turut, pasar kini berada pada fase yang membutuhkan perhatian terhadap keseimbangan antara tekanan jual dan aksi beli. Data perdagangan hari ini yang menunjukkan 439 saham menguat dibandingkan 201 saham melemah menjadi sinyal bahwa koreksi IHSG belum sepenuhnya menggambarkan kondisi seluruh saham di BEI.
Data AI
