Bojonegoro, TopBusiness — Pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 melalui Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) terus dikembangkan. Tak sekadar memberikan bantuan, program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan potensi ekonomi, sosial, lingkungan, hingga tata kelola masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga didorong menjadi pelaku dalam menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Head of Communications Relations & CID (Community Involvement and Development) PEPC Zona 12, Muliawaty Weanny Hikmat, mengatakan program pemberdayaan masyarakat kini dikelompokkan ke dalam empat pilar utama, yakni sosial, lingkungan, ekonomi, dan tata kelola. “Program pemberdayaan masyarakat sekarang terbagi dalam klasifikasi sosial, lingkungan, ekonomi, dan tata kelola,” ujar Wenny di Bojonegoro.
Salah satu hasil pengembangan tersebut terlihat dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tahun ini, salah satu UMKM binaan JTB Zona 12, Herbrasiana Nutrindo, berhasil lolos dalam program UMK Akademi yang digelar Holding Pertamina.
Kesempatan tersebut membuka akses lebih luas bagi Herbrasiana Nutrindo untuk mengembangkan pasar. UMKM yang bergerak dalam pengolahan daun kelor itu berkesempatan mengikuti pameran UMKM global di SMESCO dan bertemu dengan calon pembeli dari luar negeri.
Herbrasiana Nutrindo dipelopori Anita, seorang guru kimia yang mengembangkan daun kelor menjadi berbagai produk bernilai tambah. Tidak hanya teh, daun kelor diolah menjadi tablet, mi, hingga cokelat.
Menurut Wenny, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. “UMKM ini sebenarnya dipelopori Anita, seorang guru kimia. Ia mengolah daun kelor menjadi berbagai produk dan mampu mengembangkan daun kelor menjadi produk bernilai tambah,” katanya.
Pengembangan komoditas kelor tidak berhenti pada penguatan UMKM. PEPC Zona 12 juga mendorong pemanfaatan lahan kosong di sejumlah sekolah di sekitar wilayah operasi untuk ditanami tanaman kelor.
Langkah ini diarahkan agar sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan, tetapi juga ikut terhubung dengan ekosistem ekonomi masyarakat.
Tanaman kelor yang dibudidayakan di lingkungan sekolah dapat mendukung ketersediaan bahan baku bagi UMKM pengolah kelor. Dengan demikian, terdapat hubungan antara pemanfaatan lahan, kegiatan sekolah, lingkungan, dan kebutuhan bahan baku pelaku usaha.
Selain pengembangan tanaman kelor, sekolah juga didorong memanfaatkan energi surya melalui pemasangan panel surya.
Pemanfaatan energi tersebut dinilai dapat membantu sekolah menekan biaya operasional. Wenny menyebut pengeluaran sekolah dapat dihemat hingga sekitar Rp700.000 per bulan. “Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan melalui sekolah yang memanfaatkan solar panel. Dengan model ini, pengeluaran sekolah bisa dihemat hingga sekitar Rp700.000 per bulan,” ujar Wenny.
Penghematan tersebut selanjutnya dapat dialihkan untuk mendukung kebutuhan pendidikan lainnya.
Pola tersebut menjadi bagian dari pendekatan PEPC Zona 12 dalam mengembangkan program pemberdayaan yang saling terhubung. Potensi lingkungan dimanfaatkan, sekolah dilibatkan, sementara pelaku UMKM mendapatkan dukungan terhadap keberlanjutan bahan baku dan pengembangan usaha.
Bank Sampah Jadi Percontohan
Pemberdayaan masyarakat juga menyentuh persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.
Salah satu program yang dikembangkan adalah Bank Sampah Berkah Mandiri Sejahtera (BSMKH) di Desa Sendangharjo. Bank sampah tersebut kini didorong menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah di wilayah sekitar operasi.
Melalui bank sampah, masyarakat didorong untuk memiliki peran dalam memilah dan mengelola sampah sehingga memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.
Wenny mengatakan pengembangan pengolahan limbah melalui bank sampah akan terus dilakukan, dengan BSMKH di Sendangharjo menjadi salah satu model yang dikembangkan.“Program pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan limbah melalui bank sampah juga terus dikembangkan. Untuk BSMKH sekarang menjadi percontohan. Pengembangan pengolahan sampah berada di Sendangharjo,” katanya.
Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi JTB mulai diarahkan pada pola yang lebih terintegrasi.
Dari daun kelor yang dikembangkan menjadi produk UMKM, lahan sekolah yang dimanfaatkan untuk mendukung bahan baku, panel surya yang membantu menekan biaya energi, hingga bank sampah yang menjadi model pengelolaan limbah, program-program tersebut diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi sekaligus sosial dan lingkungan bagi masyarakat sekitar.
