Jakarta, TopBusiness – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (22/9/2026). IHSG turun 107,68 poin atau 1,69% ke level 6.277,04 dari posisi penutupan sebelumnya di level 6.384,72.
Tekanan jual mendominasi perdagangan saham hari ini. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 139 saham ditutup menguat, 533 saham melemah, sementara 118 saham lainnya stagnan.
Total volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 32,10 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp13,78 triliun.
Pelemahan IHSG juga tercermin dari mayoritas sektor saham yang berakhir di zona merah. Sektor energi menjadi sektor dengan penurunan paling dalam, yakni 2,76%. Selanjutnya, sektor perindustrian melemah 2,31% dan sektor properti turun 2,01%.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih mampu bergerak positif. PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi salah satu saham yang mencatat penguatan terbesar di jajaran LQ45 dengan kenaikan 4,33%. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat 2,15%, sedangkan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 1,88%.
Sebaliknya, sejumlah saham mengalami koreksi cukup dalam. PT Indika Energy Tbk (INDY) turun 5,13%, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah 4,76%, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terkoreksi 4,40%.
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham perbankan dan energi menjadi salah satu sumber tekanan terhadap indeks seiring meningkatnya aksi jual investor.
Pada perdagangan pagi, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,73% ke Rp3.210. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah 3,05% ke Rp12.725, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 1,20% ke Rp2.470.
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkoreksi 3,65% ke Rp185 dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 2,17% ke Rp675. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,40% ke Rp6.200.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG cukup luas. Pelemahan tidak hanya terjadi pada saham-saham lapis kedua dan ketiga, tetapi juga menyentuh sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan indeks.
Investor juga mencermati agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 22-23 September 2026. Pasar menunggu arah kebijakan suku bunga BI serta respons bank sentral terhadap perkembangan nilai tukar rupiah dan kondisi pasar keuangan global.
Selain kebijakan moneter domestik, sentimen eksternal turut menjadi perhatian investor. Pergerakan harga minyak, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan ekonomi China, serta hubungan perdagangan Amerika Serikat dan China menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi selera risiko investor.
Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG hingga 6.277,04 membuat indeks semakin mendekati area support yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar. Area 6.200-6.180 menjadi salah satu level yang perlu dicermati apabila tekanan jual berlanjut.
Sementara itu, level 6.300 menjadi area psikologis yang penting untuk diperhatikan. Apabila IHSG mampu kembali bergerak di atas level tersebut, tekanan jual dalam jangka pendek dapat mereda. Sebaliknya, apabila tekanan jual semakin kuat dan IHSG menembus area support, pelaku pasar akan mencermati level support berikutnya.
Dengan kondisi 533 saham melemah dibandingkan 139 saham yang menguat, perdagangan Selasa menunjukkan dominasi tekanan jual yang cukup kuat. Investor kini akan mencermati hasil RDG Bank Indonesia, pergerakan rupiah, serta respons pasar terhadap kondisi ekonomi global sebagai katalis utama perdagangan berikutnya.
Data AI
