Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (2/10/2026) dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.018,08.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,90 poin atau 0,15 persen ke level 593,28.
Penguatan IHSG pada awal perdagangan menjadi respons pasar setelah indeks pada perdagangan sebelumnya terkoreksi cukup dalam. Pada Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup melemah 1,02 persen ke level 6.009,50.
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari RTI Business, hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG bergerak ke level 6.029,10 atau menguat 19,59 poin atau 0,33 persen. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.044,25 dan level terendah 6.017,55.
Aktivitas perdagangan pada awal sesi tercatat cukup ramai. Volume transaksi mencapai sekitar 29,28 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp1,09 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 64.572 transaksi.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 254 saham menguat, 146 saham melemah, sementara 247 saham bergerak stagnan.
Pergerakan tersebut menunjukkan adanya upaya investor melakukan pembelian kembali setelah tekanan jual yang membawa IHSG mendekati level psikologis 6.000. Namun, penguatan awal perdagangan masih perlu dicermati karena terjadi setelah IHSG mengalami koreksi tajam pada sesi sebelumnya.
Tekanan jual pada perdagangan Kamis juga terlihat dari transaksi investor asing. Investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp240,43 miliar di pasar reguler. Sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti BMRI, GOTO, BBRI, MDKA, dan BBCA menjadi saham yang mengalami tekanan jual cukup besar.
Dari sisi teknikal, level 6.000 menjadi area penting bagi pergerakan IHSG. Kemampuan indeks untuk bertahan di atas level tersebut dapat menjadi indikasi awal adanya stabilisasi setelah koreksi. Sementara itu, penguatan lebih lanjut dan kemampuan menembus area 6.040-6.050 akan menjadi perhatian pasar untuk melihat apakah momentum rebound dapat berlanjut.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan IHSG kembali bergerak di bawah 6.000, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka. Kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati apakah penguatan Jumat hanya merupakan technical rebound atau mulai menjadi awal pembentukan tren pemulihan.
Dari sisi pasar global, sentimen masih bercampur. Wall Street ditutup menguat tipis pada perdagangan sebelumnya, tetapi kenaikan harga minyak dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat masih menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan aset berisiko.
Harga minyak Brent dilaporkan berada di sekitar US$102,49 per barel, sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$93 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut turut menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Di dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan sentimen yang relatif positif. PMI manufaktur kembali berada di zona ekspansi, sementara inflasi September tercatat 3,28 persen secara tahunan. Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus.
Namun, pergerakan rupiah dan arus dana asing tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS serta tingginya imbal hasil Treasury AS dapat memengaruhi preferensi investor terhadap aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, penguatan IHSG pada awal perdagangan Jumat lebih tepat dibaca sebagai upaya stabilisasi setelah koreksi sebelumnya. Konfirmasi pemulihan masih membutuhkan dukungan volume dan nilai transaksi yang lebih kuat, breadth pasar yang positif, serta berkurangnya tekanan jual investor asing.
Investor juga akan mencermati pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar karena arah saham big caps akan sangat menentukan kemampuan IHSG untuk mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan.
Data AI
