Jakarta, TopBusiness — PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI melanjutkan langkah penguatan tata kelola ekspor komoditas strategis Indonesia melalui pelaksanaan platform pilot.
Pilot ini bertujuan untuk menguji sistem portal DSI, yaitu NADI (National Data Intelligence), yang akan diluncurkan secara bertahap kepada eksportir.
Pelaksanaan ini melibatkan enam asosiasi industri, yaitu Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan Indonesian Mining Association (IMA).
Turut hadir perwakilan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Lembaga National Single Window (LNSW), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Bank Indonesia.
Keterlibatan pemerintah dan industri sejak tahap pilot menjadi bagian penting untuk memastikan penguatan tata kelola ekspor dilakukan secara bertahap, terukur, dan kolaboratif, sekaligus tetap mendukung kelancaran perdagangan dan kepastian bagi pelaku usaha.
Sinthya Roesly, Direktur Keuangan dan Treasury DSI mengatakan pilot ini merupakan langkah konkret untuk membangun sistem yang semakin terintegrasi dengan kebutuhan pemerintah dan dunia usaha.
“Sebagai satu kesatuan yang kuat dalam meraih cita-cita bersama, ekosistem yang ingin kita ciptakan harus dibangun bersama-sama baik dengan pemerintah dan juga para pelaku industry,” ujar Sinthya dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/10/2026).
“Prioritas kami adalah meningkatkan transparansi dan visibilitas, sekaligus memastikan kegiatan ekspor tetap berjalan lancar. Melalui pilot ini, kami dapat mendengar masukan, menguji proses bersama, dan terus menyempurnakan sistem yang dibangun,” imbuhnya.
Kata dia, tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem ekspor yang lebih transparan, terkoordinasi dan memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada pelaku usaha serta pasar global terhadap komoditas strategis Indonesia.
Selaras dengan Perkembangan Regulasi
Sejalan dengan perkembangan mandat DSI dan regulasi terkait komoditas strategis, pemerintah dan DSI terus melakukan pembahasan untuk memastikan implementasi ke depan dapat berjalan selaras dengan ketentuan yang diperbarui, sekaligus tetap menjaga kelancaran kegiatan ekspor.
Keterlibatan enam asosiasi industri sejak tahap pilot menjadi bagian penting dalam proses pengembangan platform, terutama untuk memastikan sistem dan mekanisme yang dibangun dapat menjawab kebutuhan operasional pelaku usaha.
Inisiatif ini juga mendapat respons positif dari asosiasi karena dinilai dapat mendukung penguatan tata kelola ekspor melalui transparansi data dan pendekatan yang lebih terstruktur.
“Kami menyambut baik inisiatif ini karena tujuannya sejalan dengan upaya mendorong ekspor Indonesia. Transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik menjadi hal penting yang kami harapkan dapat diwujudkan melalui inisiatif ini, sehingga dapat turut mendukung penguatan ekspor nasional,” ungkap Priyadi, Ketua Umum, APBI-ICMA.
Pandangan serupa disampaikan oleh Paulus Edwin Gunawan Sutanto, perwakilan GIMNI, yang menilai inisiatif ini dapat menghadirkan analisis dan acuan yang lebih jelas bagi industri.
“Inisiatif ini sangat baik karena analisis seperti ini diperlukan untuk dapat menjadi acuan bersama. Dengan adanya metodologi dan acuan harga yang lebih terstruktur, kami berharap dapat bersama-sama melakukan perbaikan untuk Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.
Masukan dari asosiasi dan pelaku usaha selama tahap pilot akan terus menjadi bagian dari penyempurnaan platform, sehingga implementasinya dapat berjalan efektif, selaras dengan perkembangan regulasi, serta relevan dengan kebutuhan industri.
Selain membangun platform dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta industri, DSI juga terus memperkuat kapabilitasnya melalui talenta dengan pengalaman di sektor komoditas dan perdagangan global.
Daniel Lim, yang memiliki pengalaman dalam komoditas kelapa sawit selama 29 tahun di Indonesia dan Malaysia, kini telah bergabung sebagai Advisor untuk sektor agribisnis, memperkuat perspektif DSI dalam memahami dinamika perdagangan, pasar global, serta rantai nilai komoditas sawit.
Kehadiran Daniel melengkapi pendekatan DSI yang menggabungkan teknologi, data, pengalaman industri dan keahlian perdagangan dalam membangun ekosistem ekspor komoditas strategis.
Pilot platform ini selanjutnya akan menjadi ruang untuk menguji proses, mendapatkan masukan, dan menyempurnakan mekanisme bersama pemerintah dan industri. Dengan kolaborasi yang semakin kuat dan kapabilitas perdagangan yang terus diperkuat, DSI melanjutkan langkah untuk membangun ekosistem ekspor komoditas strategis Indonesia yang lebih transparan, terpercaya, terintegrasi, dan semakin kompetitif di pasar global.
