Jakarta, BusinessNews Indonesia – Langkah Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI rate) guna meredam gejolak kurs rupiah terhadap dolar AS dinilai sebagian kalangan sudah terlambat momentumnya.
BI kemungkinan besar akan memutusukan kenaikan BI rate dalam Rapat Dewan Guberbur (RDG) sore ini. Sebab, global sudah terlebih dahulu merespon terkait kenaikan suku bunga The Fed.
Saat ini suku bunga 7-Days Repo Rate masih bertahan di level 4,25%. Sementara itu, The Fed sudah dua kali menaikkan suku bunganya di tahun ini hingga berada di rentang 1,5%-1,75%.
Sementara itu, China sudah mengambil keputusan untuk ikut menaikkan suku bunga 7-Days Reverse Repurchase Agreement menjadi 2,55% pada Maret lalu.
Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan BI sudah melewatkan timing tersebut, meski pelaku pasar sudah memperkirakan adanya kenaikan suku bunga. Sehingga jika naik, hal ini cenderung dinilai akan memberatkan pasar.
“Saat ini saya kalau ditanya pilihannya meski sudah restore-in saya pilih stay (bunga acuan tetap). Karena sudah ada momentum yang terlewatkan buat naik bagi saya,” kata Tito di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (17/5).
Tito menyebutkan jika kenaikan suku bunga saat ini ditujukan untuk menyelamatkan pelemahan rupiah saat ini, maka hal tersebut dinilai tak akan memberikan perubahan besar.
