TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Bukan Meredup, Industri Percetakan Kini Makin Adaptif di Era Digital

Nurdian Akhmad
7 October 2026 | 14:07
rubrik: Business Info
Bukan Meredup, Industri Percetakan Kini Makin Adaptif di Era Digital

Jakarta, TopBusiness – Di tengah semakin masifnya penggunaan teknologi digital, industri percetakan ternyata tidak kehilangan gairah. Sebaliknya, industri ini terus berkembang dengan mengadopsi teknologi baru, memperluas jenis produk, serta terintegrasi dengan berbagai sektor ekonomi kreatif dan kebutuhan bisnis.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Cecep Rukendi mengatakan, anggapan bahwa industri percetakan akan meredup di era digital justru tidak sesuai dengan perkembangan yang terjadi saat ini.

“Banyak yang mengira bahwa di era yang serba digital saat ini industri percetakan akan meredup. Namun realitasnya justru sebaliknya, industri percetakan telah bertransformasi dan terintegrasi secara mendalam dengan ekosistem digital,” ujar Cecep dalam sambutan Opening Ceremony ALLPrint Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, industri percetakan kini tidak lagi sekadar berkaitan dengan teknologi mesin dan proses manufaktur, tetapi juga menjadi medium untuk menghasilkan nilai tambah bagi sektor ekonomi kreatif, seperti desain, periklanan, penerbitan, fotografi, packaging, hingga berbagai produk berbasis kekayaan intelektual.

Data yang disampaikan Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan, hingga semester I-2026 subsektor penerbitan menyumbang ekspor ekonomi kreatif sebesar US$ 6,63 juta dan berada di peringkat kelima.

Cecep mengatakan perkembangan teknologi juga telah memperluas cakupan industri percetakan. Teknologi yang berkembang kini mencakup digital printing, 3D printing, smart packaging, hingga teknologi cetak yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Ahmad Mughira Nurhani dalam sambutannya juga mengatakan industri grafika saat ini berada dalam fase transformasi yang sangat dinamis.

Perkembangan teknologi digital, otomatisasi produksi, kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya tuntutan terhadap efisiensi dan keberlanjutan telah mengubah cara industri beroperasi dan melayani pelanggan.

BACA JUGA:   ALL PRINT Indonesia 2025 Dibuka, Diikuti Lebih dari 500 Perusahaan Kemasan dan Percetakan

“Pelaku industri grafika Indonesia harus terus meningkatkan daya saing melalui investasi teknologi, pengembangan sumber daya manusia, inovasi produk, serta penerapan praktik usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Ahmad, perubahan teknologi tidak berarti menghilangkan kebutuhan terhadap produk cetak. Permintaan terhadap produk cetak berkualitas, kemasan inovatif, label, signage, percetakan komersial, dan berbagai solusi komunikasi visual tetap berkembang mengikuti kebutuhan pasar.

Transformasi justru terjadi pada teknologi dan karakter produk yang dihasilkan. Percetakan offset kini banyak mengintegrasikan teknologi digital. Media produksi juga semakin beragam, dari kertas menuju tekstil.

Signage konvensional pun berkembang menjadi signage digital. Sementara produksi massal mulai bergeser ke produk yang lebih personal sesuai kebutuhan konsumen.

Perubahan tersebut membuat investasi teknologi menjadi semakin penting bagi pelaku industri. Teknologi tidak hanya digunakan untuk meningkatkan kecepatan produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas, presisi, efisiensi, fleksibilitas, dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin beragam.

Di sisi lain, tuntutan terhadap keberlanjutan juga semakin kuat. Cecep mendorong pelaku industri untuk memperkuat praktik green printing, antara lain melalui penggunaan material daur ulang, tinta berbasis nabati, serta efisiensi energi dalam proses produksi.

“Percetakan bukan lagi sekadar memindahkan tinta ke atas kertas. Hari ini kita berbicara tentang digital printing, 3D printing, smart packaging hingga teknologi cetak ramah lingkungan,” katanya.

ALLPrint Indonesia 2026

Geliat transformasi tersebut tercermin dalam penyelenggaraan ALLPrint Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 7–10 Oktober 2026.

Memasuki penyelenggaraan ke-27, pameran yang digelar Krista Exhibitions ini diikuti sekitar 400 peserta dari lebih dari 10 negara, termasuk 20 UMKM. Peserta berasal dari Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan.

BACA JUGA:   BUMN Dukung Disabilitas Pewirausaha

CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan ALLPrint Indonesia menjadi ruang bagi pelaku industri untuk melihat dan mengevaluasi secara langsung perkembangan teknologi sekaligus membuka peluang koneksi dan kerja sama bisnis.

“Perkembangan teknologi membawa perubahan pada cara industri percetakan menjalankan proses produksi dan memenuhi kebutuhan pasar. Melalui ALLPrint Indonesia, kami mempertemukan pelaku industri dengan teknologi dan solusi yang dapat mereka lihat serta evaluasi secara langsung,” ujar Daud sambutan pembukaan ALLPrint Indonesia 2026 yang dihadiri ratusan undangan, termasuk perwakilan dari kedutaan besar negara-negara lain.

ALLPrint Indonesia 2026 menghadirkan teknologi dan solusi mulai dari mesin percetakan modern, peralatan presisi, bahan baku, hingga solusi digital terintegrasi. Cakupannya meliputi percetakan, digital printing, textile printing, packaging, label, advertising, signage, hingga 3D printing.

Pameran tersebut juga digelar bersamaan dengan Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia.

Selain pameran, penyelenggara menghadirkan seminar dan forum industri mengenai digital textile printing, smart carton manufacturing, single pass technology, food safety packaging, sertifikasi halal packaging, hingga integrasi teknologi 2D dan 3D printing.

Dari sisi bisnis, tersedia pula program Business Matching dan Hosted Buyer yang mempertemukan exhibitor dengan calon buyer dan pelaku industri yang memiliki kebutuhan serta potensi kerja sama.

Selama empat hari penyelenggaraan, ALLPrint Indonesia 2026 ditargetkan menarik sekitar 25 ribu pengunjung. Pameran ini diharapkan menjadi ruang untuk melihat perkembangan teknologi, memperluas koneksi, dan membuka peluang bisnis baru bagi industri percetakan dan grafika Indonesia.

Tags: ALL PRINT Indonesia 2025ALLPrint Indonesia 2026Krista Exhibitions
Previous Post

Iklim Investasi Membaik, Dukungan Regulasi Jadi Kunci Dorong Investasi Hulu Migas

Next Post

Cadev September Stagnan, BI: Masih Mampu Jaga Stabilitas Makroekonomi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR