Jakarta, TopBusiness — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (8/10/2026). IHSG ditutup merosot 115,44 poin atau 1,88% ke level 6.031,28.
Tekanan jual terlihat cukup dominan sepanjang perdagangan. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, sebanyak 171 saham naik, 497 saham turun, dan 119 saham stagnan.
Total volume perdagangan saham mencapai 60,24 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp12,48 triliun.
Koreksi IHSG pada perdagangan hari ini menunjukkan tekanan jual yang cukup luas. Hal tersebut tercermin dari jumlah saham yang mengalami penurunan yang jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
IHSG sempat dibuka di zona positif sebelum akhirnya berbalik melemah. Pada perdagangan awal, indeks sempat mencapai level 6.179,09. Namun, tekanan jual kemudian meningkat dan membawa IHSG bergerak semakin rendah hingga akhirnya ditutup di level 6.031,28.
Pada sesi pertama, IHSG telah melemah 0,80% ke level 6.097,40. Tekanan tersebut berlanjut hingga akhir perdagangan sehingga indeks kehilangan lebih dari 115 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Dari sisi pasar, kondisi breadth perdagangan menunjukkan sentimen investor yang cenderung negatif. Dari 787 saham yang bergerak, sebanyak 497 saham atau sekitar 63% berakhir melemah, sedangkan hanya 171 saham atau sekitar 22% yang menguat.
Situasi tersebut mengindikasikan bahwa pelemahan IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh beberapa saham berkapitalisasi besar, tetapi juga terjadi secara relatif luas di berbagai sektor.
Dari sisi teknikal, penutupan IHSG di level 6.031,28 menjadi perhatian karena indeks semakin dekat dengan level psikologis 6.000. Area tersebut berpotensi menjadi titik penting bagi pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya.
Apabila IHSG mampu bertahan di atas level 6.000 dan kembali mendapatkan tekanan beli, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka. Sebaliknya, apabila level tersebut ditembus secara meyakinkan, risiko pelemahan lanjutan akan semakin besar.
Sebelumnya, sejumlah analis menempatkan area 6.091 sebagai salah satu support IHSG, dengan support berikutnya di sekitar 5.973. Dengan penutupan hari ini di 6.031,28, IHSG telah bergerak di bawah area support tersebut sehingga investor perlu mencermati potensi tekanan lanjutan.
Selain level 6.000, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan saham-saham berkapitalisasi besar karena pergerakan kelompok saham tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap IHSG.
Di tengah kondisi pasar yang masih volatile, investor disarankan memperhatikan perkembangan volume transaksi, arah aliran dana asing, serta kemampuan IHSG bertahan di sekitar area support. Jika tekanan jual mulai berkurang dan muncul akumulasi pembelian, peluang pemulihan indeks dapat kembali terbuka.
Sebaliknya, apabila jumlah saham yang melemah tetap dominan dan tekanan jual meningkat, IHSG berpotensi kembali menguji level support berikutnya.
Dengan demikian, IHSG pada perdagangan Kamis (8/10/2026) ditutup di level 6.031,28, turun 115,44 poin atau 1,88%. Total volume perdagangan mencapai 60,24 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,48 triliun.
Sebanyak 171 saham menguat, 497 saham melemah, dan 119 saham stagnan.
Pergerakan IHSG pada perdagangan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan indeks mempertahankan area 6.000. Level tersebut menjadi perhatian utama investor karena berpotensi menjadi batas antara peluang rebound dan risiko pelemahan lanjutan.
Data AI
