Jakarta, TopBusiness – Proyek pembangunan Jalan Tol Ancol Timur–Pluit atau Harbour Road II (HBR II) terus menunjukkan perkembangan. Jalan tol layang yang dikenal sebagai tol ‘langit’ milik perusahaan yang turut dibesarkan pengusaha Jusuf Hamka alias Babah Alun ini ditargetkan mulai dapat digunakan pada kuartal I 2028.
Tak hanya menawarkan infrastruktur jalan bertingkat dengan ketinggian mencapai 38 meter, proyek senilai Rp15,08 triliun tersebut juga diklaim memiliki ketahanan terhadap gempa bumi hingga 1.000 tahun.
Klaim tersebut disampaikan Dewan Penasihat PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), Jusuf Hamka. Ia menyebut pembangunan Harbour Road II merupakan cita-cita lama untuk menghadirkan jalan tol bertingkat di atas ruas tol yang sudah beroperasi.
“Jalan Harbour Road II ini buat saya merupakan cita-cita yang sejak lama karena ini elevated di atas yang sudah ada. Jadi kalau boleh bilang kalau dulu single-decker sekarang double decker,” ujar Jusuf Hamka.
Babah Alun juga membanggakan proyek tersebut karena dibangun menggunakan kemampuan tenaga kerja Indonesia dan teknologi dalam negeri, tanpa mengandalkan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Ini dibangun oleh anak bangsa sendiri tanpa ada orang-orang luar negeri dan juga tidak menggunakan APBN. Jadi mudah-mudahan kita yang pekerja keras terus mendapatkan support dari pemerintah,” katanya.
Ia bahkan menyampaikan klaim mengenai ketahanan struktur jalan tol terhadap gempa.
“Insyaallah jalan kita ini kekuatan anti gempanya bukan 100 tahun lagi ya, 1.000 tahun pak sekarang,” ungkapnya.
Meski demikian, pernyataan ketahanan gempa hingga 1.000 tahun tersebut merupakan klaim Jusuf Hamka dan bukan berarti struktur jalan tol dijamin kebal terhadap seluruh jenis gempa selama periode tersebut.
Progres Konstruksi Capai 47,41 Persen
Direktur Utama PT CMNP Tbk, Arief Budhy Hardono, mengungkapkan progres konstruksi Harbour Road II telah mencapai 47,41 persen. Sementara itu, realisasi pengadaan lahan berada pada angka 64,57 persen.
Menurut Arief, salah satu tantangan terbesar pembangunan proyek ini adalah proses pembebasan lahan yang memiliki kompleksitas tinggi, terutama terkait status kepemilikan dan persoalan legalitas.
“Hingga saat ini, progres pengadaan lahan telah mencapai 64,57%,” ujar Arief.
Selain penyelesaian lahan berdasarkan penetapan lokasi sebelumnya, proyek tersebut masih membutuhkan pembaruan penetapan lokasi untuk lahan seluas sekitar 3,9 hektare.
Tak hanya itu, diperlukan pula penetapan lokasi baru untuk tambahan lahan sekitar 8,4 hektare guna menunjang kegiatan konstruksi dan kebutuhan area kerja proyek.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, pengembang tetap menargetkan Jalan Tol Harbour Road II dapat difungsionalkan pada kuartal pertama 2028, sebelum nantinya memasuki tahap pengoperasian penuh.
Jadi Tol Layang Tertinggi di Jakarta
Harbour Road II memiliki panjang sekitar 9,68 kilometer yang menghubungkan kawasan Ancol Timur dengan Pluit, Jakarta Utara.
Salah satu keistimewaan proyek ini adalah konstruksinya yang dibangun di atas jaringan jalan tol eksisting, sehingga membentuk infrastruktur jalan bertingkat.
Dengan ketinggian struktur yang disebut mencapai 38 meter, Harbour Road II digadang-gadang menjadi salah satu jalan tol layang tertinggi di Jakarta, melampaui ketinggian Tol Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) yang disebut sekitar 15 meter.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, menjelaskan proyek tersebut menggunakan teknologi box girder dengan lebar mencapai 14,3 meter.
Struktur tersebut dirancang untuk menopang tiga lajur kendaraan beserta bahu jalan, dengan bentang sekitar 45 meter.
“Dari sisi konstruksi, proyek ini memiliki karakteristik khusus dengan penggunaan teknologi box girder selebar 14,3 meter yang menopang tiga lajur beserta bahu jalan,” jelas Diana.
Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan pemasangan struktur dilakukan dengan tetap memperhatikan aktivitas masyarakat serta keberadaan fasilitas di bawah jalan tol.
Pemerintah Dorong Penyelesaian Tepat Waktu
Diana menegaskan pembangunan Harbour Road II harus tetap mengutamakan ketepatan waktu, kualitas konstruksi, dan koordinasi antarpemangku kepentingan.
Terlebih, pembangunan jalan tol ini berlangsung di kawasan perkotaan yang padat aktivitas dan memiliki berbagai infrastruktur pendukung.
Pemerintah juga menekankan pentingnya integrasi pembangunan jalan tol dengan sistem drainase serta program pengendalian banjir di wilayah sekitarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Ira Ariani Chaerunisa, memastikan pemerintah terus memberikan dukungan kebijakan sesuai kewenangannya untuk memperlancar pembangunan.
Dukungan tersebut mencakup koordinasi penyelesaian pengadaan lahan, aspek perizinan, hingga sinkronisasi dengan pembangunan infrastruktur lainnya.
Ke depan, pengembangan konektivitas dari Harbour Road II menuju kawasan Bandara Soekarno-Hatta juga menjadi bagian dari rencana peningkatan jaringan jalan tol, meskipun masih memerlukan proses perizinan dan tahapan pengembangan lebih lanjut.
Dengan nilai investasi mencapai Rp15,08 triliun, Harbour Road II diharapkan menjadi salah satu infrastruktur strategis yang mampu meningkatkan kapasitas jaringan jalan tol Jakarta, memperlancar mobilitas kendaraan, serta mendukung aktivitas ekonomi dan logistik di kawasan Jakarta Utara.
Apabila target fungsional pada awal 2028 tercapai, proyek yang menjadi kebanggaan Babah Alun tersebut akan memasuki babak baru sebagai salah satu jalan tol layang bertingkat yang menonjol di Ibu Kota.
