TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Samuel Sekuritas: Risiko El Nino akan Tekan Produksi, Namun bisa Kerek Laba Emiten CPO

Busthomi
16 October 2026 | 21:33
rubrik: Capital Market
66 Persen Kebun Sawit PTPN V Digarap Petani

llustrasi sawit. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Samuel Sekuritas Indonesia kembali menggelar Media Connect sebagai forum diskusi bersama media mengenai perkembangan pasar, peluang investasi, serta isu yang relevan bagi investor.

Pada edisi kali ini, pembahasan menyoroti potensi dampak El Niño terhadap industri crude palm oil (CPO), sekaligus perkembangan inklusi keuangan dan transformasi investasi reksa dana melalui digitalisasi.

Juan Harahap, Equity Research Analyst Samuel Sekuritas Indonesia, menilai risiko El Niño yang sangat kuat berpotensi menciptakan tekanan terhadap produksi komoditas pertanian, termasuk kelapa sawit.

Dalam kajian Samuel Sekuritas Indonesia, probabilitas terjadinya very strong El Niño pada Oktober–Desember 2026 mencapai 81%, meningkat signifikan dari 62% pada Juni dan 33% pada Mei. Probabilitas El Niño bertahan hingga awal 2027 bahkan diperkirakan mencapai 97%.

“Risiko El Niño tahun ini meningkat cukup cepat. Ketika curah hujan menurun dan wilayah produksi utama sawit ikut masuk dalam zona kekeringan, tekanan terhadap produksi berpotensi semakin besar. Kondisi ini dapat menjadi katalis bagi harga CPO,” ujar Juan dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Tekanan cuaca tersebut mulai terlihat dari proyeksi curah hujan yang lebih rendah. Berdasarkan data BMKG yang dikutip dalam kajian Samuel Sekuritas Indonesia, sekitar 56% wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami curah hujan rendah, termasuk sejumlah kawasan produksi CPO utama di Sumatra dan Kalimantan.

Di Sumatra Barat, curah hujan 10 harian pada 2026 tercatat sekitar 34 mm, atau sekitar 55% lebih rendah dibandingkan rata-rata periode El Niño 2015–2016 sebesar 75 mm.

Dari sisi pasokan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI memperkirakan produksi dapat turun sekitar 1–2 juta ton dari produksi 2025 yang mencapai 51,7 juta ton. Tekanan terhadap produksi jugadatang dari kenaikan biaya pupuk sekitar 30–50%, persoalan lahan, serta kebijakan B50 yang berpotensi membatasi ketersediaan pasokan untuk pasar ekspor.

BACA JUGA:   Saham Pilihan Hari Ini: RS Hermina

Menurut Juan, kombinasi antara produksi yang lebih rendah dan permintaan yang tetap kuat berpotensi menopang harga CPO. Samuel Sekuritas Indonesia menetapkan skenario bullish harga CPO hingga US$1.500 per ton CIF Rotterdam, sekitar 10,6% di atas rata-rata harga CPO 1Q26 sebesar US$1.356 per ton.

“Dalam skenario kami, volume produksi dapat turun tetapi harga justru berpotensi meningkat. Bagi perusahaan CPO yang memiliki eksposur besar pada bisnis upstream, kenaikan harga dapat memberikan leverage yang cukup signifikan terhadap profitabilitas,” ujar Juan.

Analisis sensitivitas Samuel Sekuritas Indonesia menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga CPO sebesar 10% berpotensi meningkatkan rata-rata laba bersih 2027F emiten CPO yang dianalisis sekitar 37%.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tercatat sebagai perusahaan dengan sensitivitas terbesar, dengan potensi kenaikan laba bersih 101,6%, disusul PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) sebesar 59,0%, PT. Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) 30,3%, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) 24,2%, PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) 18,3%, dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) 17,9%.

Meski demikian, Samuel Sekuritas Indonesia mengingatkan bahwa dampak El Niño tidak hanya terbatas pada pasar CPO. Risiko kekeringan dapat memengaruhi ketahanan pangan, inflasi, kebakaran hutan dan lahan, serta ketersediaan air. Dalam proyeksi 2026/2027, cadangan beras Indonesia diperkirakan turun menjadi setara 1,3 bulan konsumsi, dari sebelumnya 1,6 bulan, seiring stok akhir yang turun 19,7% YoY menjadi 3,68 juta ton. Pengalaman El Niño 2015–2016 juga menunjukkan bahwa sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, dengan harga gula dunia meningkat 33,3%, minyak sawit Malaysia naik 14,3%, kedelai naik 3,2%, dan beras putih sekitar 2,6%. Pada periode tersebut, inflasi pangan Indonesia tercatat mencapai 5,3% secara tahunan.

Tags: cpoel ninoEmiten CPOsamuel sekuritas indonesia
Previous Post

Respon Regulator Menjadi Kunci Soal MSCI, Samuel Sekuritas Nilai Downgrade ke Standalone Market Relative Kecil

Next Post

Pasar Saham kian Fluktuatif, Samel Aset Manajemen Sebut RDPU Jadi Alternatif Investasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR