Jakarta, TopBusiness – PT Bio Farma (Persero) mencatat ekspor kumulatif lebih dari Rp 10 triliun sepanjang 2021–2025. Produsen vaksin nasional ini telah menjangkau lebih dari 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika melalui pengadaan institusional serta kemitraan bilateral.
Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi, mengatakan capaian tersebut mencerminkan peluang industri kesehatan Indonesia untuk memperkuat daya saing di pasar internasional sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap ekspor nasional.
“Kami berharap produk kesehatan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia,” kata Fitri dalam keterangan tertulis, Senin (19/10/2026).
Sejak memasuki pasar internasional pada 1997, Bio Farma telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin. Perusahaan juga memiliki kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun dengan portofolio 20 produk yang telah memperoleh prakualifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut Fitri, Bio Farma terus menjaga standar mutu, keamanan, dan khasiat produk untuk memenuhi kebutuhan vaksin global. Portofolio ekspornya mencakup vaksin bakterial dan viral, termasuk vaksin polio dan campak, serta bahan aktif vaksin (vaccine drug substances).
Untuk memperluas pasar internasional, Bio Farma juga mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA). Strategi tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan dalam memperkuat akses pasar dan kemitraan global.
Atas upaya tersebut, Bio Farma meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat FTA dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD, Tangerang. Penghargaan ini menjadi yang ke-12 bagi perusahaan sejak 2010.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan strategis, serta meningkatkan kontribusi ekspor produk kesehatan Indonesia,” ujar Fitri.
Selain memperluas pasar ekspor, Bio Farma juga memperkuat kemampuan riset dan penguasaan teknologi vaksin untuk mendukung kebutuhan kesehatan dalam negeri.
Salah satunya melalui pengembangan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat yang melibatkan kerja sama riset, transfer teknologi, uji klinis, dan evaluasi regulator hingga memperoleh persetujuan pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Bio Farma juga mengembangkan Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), yang memperoleh nomor izin edar dari BPOM pada 2 September 2026.
Kedua pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri vaksin nasional, menjaga keberlanjutan pasokan, serta memperluas akses masyarakat terhadap produk kesehatan berkualitas.
“Pengembangan Bio-TCV dan Bio-RV menunjukkan bagaimana kolaborasi dan penguasaan teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat serta memperkuat kemampuan industri vaksin nasional,” kata Fitri.
Melalui penguatan ekspor, pemanfaatan FTA, dan pengembangan teknologi vaksin, Bio Farma berupaya meningkatkan peran industri farmasi nasional dalam rantai pasok kesehatan global sekaligus mendukung kemandirian kesehatan Indonesia.
