Jakarta, TopBusiness – Gejolak pasar saham domestik mendorong investor untuk kembali mencermati pentingnya diversifikasi portofolio.
Di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah, aset kripto dinilai dapat menjadi salah satu alternatif investasi, meskipun pemilihannya tetap harus mempertimbangkan profil risiko dan kondisi keuangan masing-masing investor.
Assistant Manager of Business Development PT Samuel Kripto Indonesia M. Raditya Adhimukti menilai, karakter aset kripto yang diperdagangkan secara global memberikan alternatif eksposur investasi di luar pasar modal domestik. Namun, tidak seluruh aset kripto memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang sama.
Dalam wawancara kepada TopBusiness, ia menjelaskan bahwa tekanan di pasar saham Indonesia perlu dilihat bersamaan dengan perkembangan aset global, termasuk Bitcoin dan stablecoin yang nilainya mengikuti aset acuan tertentu.
“Cryptocurrency ini aset global. Kondisinya saat ini kalau saya bilang perform juga enggak, tetapi underperform juga enggak. Jadi, dalam kondisi netral,” ujarnya, Jumat (20/10/2026) lalu.
Menurut dia, perkembangan Bitcoin menunjukkan pemulihan dari titik terendahnya pada tahun berjalan. Berdasarkan angka yang disampaikan dalam wawancara, Bitcoin sempat berada di kisaran 55.000–56.000 sebelum kembali naik ke sekitar 82.000. Angka tersebut menunjukkan pemulihan harga yang cukup signifikan dibandingkan titik terendahnya.
Meski demikian, pergerakan Bitcoin tidak dapat dijadikan jaminan bahwa aset kripto akan selalu memberikan kinerja lebih baik daripada saham. Harga aset kripto tetap berfluktuasi dan berpotensi mengalami koreksi dalam waktu singkat.
USDT Jadi Alternatif Eksposur Dolar
Selain Bitcoin, Raditya menyoroti stablecoin, khususnya Tether (USDT), sebagai salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan investor untuk memperoleh eksposur terhadap dolar Amerika Serikat melalui aset digital.
Stablecoin merupakan jenis aset kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil terhadap aset acuan. USDT, misalnya, dirancang mengikuti nilai dolar AS. Meski demikian, nilainya terhadap rupiah tetap dapat berubah mengikuti pergerakan kurs, sementara harga di platform perdagangan dapat mengalami selisih dari nilai acuannya.
Narasumber menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai aset berdenominasi dolar ketika dikonversi ke rupiah.
Karena itu, investor yang memiliki eksposur terhadap dolar berpotensi memperoleh keuntungan dari perubahan nilai tukar, bahkan ketika harga aset dalam denominasi dolar relatif stabil.
“Kalau kita memegang USDT saja, sebenarnya kita sudah outperform pasar modal Indonesia,” katanya, merujuk pada perbandingan kinerja yang dibahas dalam wawancara.
Ia mengingatkan bahwa pernyataan tersebut bukan berarti seluruh investor harus mengalihkan dananya ke dolar AS atau USDT. Menurut dia, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan keuangan, serta toleransi risiko masing-masing.
USDT juga tidak sepenuhnya bebas risiko. Investor tetap perlu memperhatikan risiko penerbit, mekanisme penebusan, likuiditas, keamanan platform perdagangan, serta kemungkinan perbedaan harga USDT terhadap dolar AS maupun rupiah.
Dengan demikian, stablecoin tidak dapat diperlakukan sama dengan simpanan bank atau uang tunai yang dijamin oleh lembaga penjamin simpanan.
Jangan Abaikan Dana Darurat
Di tengah ketidakpastian pasar, dia menekankan pentingnya menjaga likuiditas sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.
Investor yang belum yakin terhadap arah pasar dapat mempertahankan sebagian dana dalam bentuk kas sambil menunggu peluang yang dinilai lebih menarik.
“Kalaupun kita enggak mau switching ke USD atau USDT, lebih baik kita keep cash dulu saat ini. Perkuat dana darurat, keep cash dulu,” ujarnya.
Menurut dia, strategi tersebut memberikan ruang bagi investor untuk menentukan kembali instrumen yang akan dipilih ketika kondisi pasar menjadi lebih jelas.
Pendekatan ini juga penting karena penurunan pasar saham tidak serta-merta berarti pasar akan terus melemah. Demikian pula, penguatan Bitcoin atau aset kripto lainnya tidak menjamin tren kenaikan akan berlanjut.
Investor, karena itu, perlu menghindari keputusan yang semata-mata didorong kepanikan atau keinginan mengejar keuntungan dari aset yang sedang naik.
Diversifikasi dengan Memperhitungkan Risiko
Dia menilai, investor dengan pandangan jangka panjang tetap dapat mempertimbangkan alokasi sebagian portofolio ke aset kripto. Dalam pandangannya, Bitcoin dan USDT memiliki karakteristik berbeda, sehingga perlu diperlakukan sesuai fungsi dan risikonya.
Bitcoin menawarkan potensi keuntungan dari kenaikan harga, tetapi volatilitasnya relatif tinggi. Sementara itu, USDT dirancang untuk mengikuti nilai dolar AS sehingga lebih berfokus pada eksposur mata uang, bukan pada potensi apresiasi harga seperti Bitcoin.
Ia juga menyoroti hubungan antara pelemahan rupiah dan kemampuan investor membeli Bitcoin. Apabila harga Bitcoin dalam dolar naik bersamaan dengan pelemahan rupiah, biaya pembelian Bitcoin dalam rupiah dapat meningkat lebih tajam.
Kondisi tersebut membuat investor perlu memperhitungkan dua faktor sekaligus, yakni pergerakan harga aset dalam denominasi dolar dan perubahan kurs rupiah terhadap dolar AS.
“Menurut saya, di saat yang seperti ini memang tidak ada timing yang pas. Tapi kalau kita punya pandangan ke depan, saya rasa saya akan tetap memilih sebagian portofolio investasi saya ada di cryptocurrency, terutama yang paling stabil adalah USDT, dan yang kedua Bitcoin,” ujarnya.
Meski demikian, keputusan membeli pada saat harga sedang tinggi juga memiliki risiko. Investor perlu mempertimbangkan strategi pembelian bertahap, batas alokasi aset berisiko, serta kebutuhan dana dalam jangka pendek.
Pada akhirnya, tekanan pasar saham dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengevaluasi kembali komposisi portofolio, bukan sekadar memindahkan dana dari satu instrumen ke instrumen lain.
Menjaga dana darurat, memahami risiko setiap aset, dan melakukan diversifikasi secara terukur tetap menjadi landasan penting dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan.
