
Ini merupakan wujud kepedulian PT Unilever Indonesia dalam memetakan, menginspirasi, serta mendokumentasikan warisan kuliner Nusantara dari barat ke timur. Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara yang digelar Kecap Bango ini akan mengangkat kuliner Nusantara ke mancanegara.
Nuning Wahyuningsih, Senior Brand Manager Bango Unilever Indonesia, mengatakan bahwa sebagai brand kecap nomor satu di Indonesia, Bango secara konsisten menjalankan misi sosial untuk melestarikan kuliner Nusantara melalui berbagai aktivitas dan fasilitas. “Tahun ini, kami memiliki misi besar untuk mengedukasi dan melibatkan peran aktif masyarakat Indonesia dalam menggali, mendokumentasikan, dan mengintegrasikan kekayaan warisan kuliner dari Barat hingga ke Timur Nusantara,” kata dia.
Misi ini terinspirasi dari fakta bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki keragaman kuliner otentik yang sangat kaya. Dari wilayah barat, tengah, hingga timur Indonesia, terdapat begitu banyak jenis kuliner otentik yang dapat merepresentasikan kekayaan hasil alam dan kebudayaan Indonesia, baik itu dari segi bahan otentik yang dipergunakan hingga ke cara pengolahan dan penyajian yang tak kalah otentik.
Firmansyah Rahim, direktur Pengembangan Destinasi Wisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, mengatakan bahwa pihaknya mengemban misi mengangkat citra kuliner tradisional Indonesia ke ranah yang lebih luas. Sehingga, tidak hanya mampu meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata, tetapi memerkuat ekonomi kreatif dan industri kuliner.
Ekspedisi itu merupakan perjalanan ekstensif yang menelusuri kekayaan kuliner di tiga wilayah Indonesia yaitu Indonesia Barat (Sumatera-Kalimantan), Indonesia Tengah (Jawa, Bali, dan Madura) serta Indonesia Timur (Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua). Kegiatan ini telah berlangsung sejak pertengahan April 2014 lalu hingga Agustus 2014 nanti.
Arie Parikesit, pakar kuliner nusantara sekaligus pemimpin ekspedisi itu, mengatakan: “Salah satu yang kami temukan dalam ekspedisi ini adalah bahwa kecap merupakan salah satu bumbu masak yang dapat menyatukan Nusantara. Kecap tidak hanya ditemui di wilayah Tengah Nusantara seperti di Pulau Jawa dan sekitarnya, namun juga tersebar dari wilayah barat dan timur Nusantara.”
Sebagai contoh, di wilayah barat, kecap banyak digunakan dalam jenis kuliner tumis dan kuah seperti mie Aceh dan pindang ikan patin. Sedangkan di wilayah timur, banyak ragam kuliner daging dan ikan yang menggunakan kecap, seperti ikan bakar parape, sop konro, dan coto Makassar.
Ekspedisi ini menjadi semakin menarik karena seluruh masyarakat sebenarnya dapat terlibat dengan menjadi bagian dari komunitas digital Bango, antara lain melalui social media seperti Twitter, FaceBook, YouTube, dan lain-lain.
Melalui mobile application pun, pecinta kuliner tidak hanya dapat mengikuti rekam jejak tim ekspedisi, tetapi juga terlibat aktif dengan menuliskan review atas jajanan yang mereka santap dan langsung diunggah melalui aplikasi ini.
Bahkan, para penjaja makanan berkesempatan mempromosikan jajanannya kepada jutaan pengguna aplikasi ini.
Data yang terkumpul dari ekspedisi itu akan secara profesional diolah menjadi sebuah dokumentasi lengkap dalam buku Bango Jelajah Warisan Kuliner dari Barat ke Timur Nusantara. Diharapkan, buku ini akan menjadi salah satu referensi utama masyarakat Indonesia dalam memetakan, memahami, dan mengapresiasi ragam kekayaan warisan kuliner Nusantara.
“Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan tahun ini menginspirasi masyarakat untuk semakin menumbuhkan minat, kecintaan, dan kebanggaan mereka terhadap warisan kuliner Nusantara,” kata Nuning. (AL)
EDITOR: DHI