TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

IHSG Masih Rentan, Investor Disarankan Fokus pada Fundamental Saham

Nurdian Akhmad
30 October 2026 | 09:12
rubrik: Business Info, Capital Market
IHSG Berseberangan dengan Dow Jones

Ilustrasi rekomendasi saham hari ini. FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih rentan di tengah ketidakpastian pasar global dan domestik. Tekanan terhadap rupiah, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), serta usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sejumlah faktor yang masih membayangi pergerakan pasar.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan investor perlu mencermati perkembangan pasar secara hati-hati, meskipun IHSG mulai menunjukkan penguatan.

Pada Rabu (28/10), IHSG menguat 0,31% ke level 5.282 setelah berbalik dari pelemahan intraday. Namun, posisi indeks tersebut masih jauh di bawah penutupan pekan sebelumnya.

Di sisi lain, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp655 miliar di seluruh pasar. Meski demikian, arus masuk dana asing tersebut dinilai belum cukup untuk menunjukkan pembalikan tren aksi jual sejak pengumuman konsultasi reklasifikasi MSCI.

“Kami tetap berhati-hati dan melihat pemulihan IHSG masih rapuh hingga arus dana asing membaik secara lebih konsisten dan tekanan terhadap rupiah mereda,” ujar Rully dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Dia menjelaskan, tekanan pasar juga dipengaruhi perkembangan ekonomi global. Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00% dengan sikap berhati-hati di tengah inflasi yang masih tinggi.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5%, sedangkan harga minyak Brent meningkat hingga US$115 per barel.

Menurut Mirae Asset, tingginya imbal hasil global dan harga energi berpotensi mempersulit stabilisasi rupiah sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

Spekulasi Transaksi BBCA-DBS

Di tengah ketidakpastian pasar, perhatian investor juga tertuju pada spekulasi kemungkinan transaksi strategis yang melibatkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan DBS Group. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai transaksi tersebut.

BACA JUGA:   IHSG Rawan Aksi Profit Taking Lanjutan

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menjelaskan bahwa penurunan valuasi BBCA di tengah ketidakpastian terkait MSCI secara teoritis dapat meningkatkan daya tarik saham tersebut bagi investor strategis.

Meski demikian, realisasi transaksi akuisisi tetap bergantung pada kesediaan pemegang saham, kapasitas pendanaan, serta persetujuan regulator.

Saat ini, PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham pengendali BBCA dengan kepemilikan 54,94%. Hingga kini, belum ada rencana divestasi yang diumumkan secara terbuka.

“Meski penurunan valuasi dapat membuka peluang bagi investor strategis, belum ada bukti yang cukup untuk menilai kemungkinan terjadinya transaksi. Karena itu, kami tidak melihat dasar yang kuat untuk memasukkan premi akuisisi ke dalam valuasi BBCA atau memperkirakan perubahan pengendalian dalam waktu dekat,” jelas Nurkholis.

Dia juga menyinggung pengalaman DBS Group ketika mengakuisisi Bank Danamon pada 2012. Saat itu, rencana akuisisi 67,37% saham Danamon senilai Rp45,2 triliun tidak berlanjut pada 2013 setelah regulator membatasi kepemilikan yang dapat diakuisisi.

Pengalaman tersebut menunjukkan adanya tantangan regulasi dalam transaksi perbankan lintas negara. Karena itu, spekulasi mengenai perubahan kepemilikan BBCA belum cukup menjadi dasar untuk memperkirakan terjadinya transaksi dalam waktu dekat.

Mirae Asset menilai daya tarik investasi BBCA tetap perlu didasarkan pada kekuatan basis pendanaan, kualitas aset, profitabilitas, dan valuasi saham. Investor juga perlu membedakan informasi yang telah dikonfirmasi secara resmi dari spekulasi pasar, serta mencermati perkembangan arus dana asing dan kondisi makroekonomi yang memengaruhi pasar saham.

Tags: Fundamental sahamihsgMirae Aset Sekuritas
Previous Post

BEI Cabut Suspensi Saham PTSP

Next Post

IHSG Dibuka Melemah, Investor Cermati Tekanan Jual dan Arah Pasar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR