
Jakarta, businessnews.id — Bank Indonesia (BI) kembali merevisi acuannya terkait dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2014. Hal itu disebabkan tiga faktor utama, khususnya kebijakan Pemerintah Indonesia terkait dengan larangan ekspor tambang mineral.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, di Jakarta (8/5/2014), hal itu merespons data pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2014 sebesar 5,21 persen. Bank Indonesia (BI) akhirnya mengoreksi target pertumbuhan ekonomi 2014 menjadi 5,1 persen sampai 5,5 persen; dari sebelumnya 5,5 persen sampai 5,9 persen.
Agus menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal I 2014 yang sebesar 5,21 persen, dipengaruhi oleh ekspor riil yang mencatat kontraksi. “Kontraksi ekspor riil terutama akibat penurunan ekspor pertambangan, seperti batu bara dan konsentrat mineral,” ujarnya.
Sementara, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, revisi target pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor. “Karena perlambatan permintaan dari Tiongkok, penurunan harga komoditas, dan akibat dari penerapan Undang-undang Minerba,” katanya.
Perry mengungkapkan, sebelumnya BI memerkirakan pertumbuhan ekspor riil barang dan jasa di 2014 sebesar 8,1 persen sampai 8,5 persen. Namun, kata dia, BI merevisi estimasi tersebut menjadi 1,5 persen sampai 1,9 persen. “Setelah melihat realisasi di triwulan pertama, kami merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.
Lebih lanjut Perry merincikan, perkiraan bakal melemahnya ekspor riil di 2014 dipengaruhi pertumbuhan ekonomi China yang sebelumnya diperkirakan 7,5 persen, tetapi realisasinya di kuartal pertama tahun ini sebesar 7,3 persen. “Jadi, ini berdampak pada ekspor kita, terutama komoditas tambang,” ucap Perry.
Dia mengatakan, penurunan nilai ekspor riil juga dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas global, seperti tembaga, batubara dan karet. “Salah satu faktor lainnya yang menyebabkan nilai ekspor menurun adalah penerapan UU Minerba,” tegasnya.
Menurut Perry, sebelumnya BI memerkirakan kebijakan larangan ekspor mineral mentah hanya akan menurunkan ekspor mineral di 2014 sebesar USD 1,8 miliar. “Tetapi dari perhitungan terakhir kami, penurunan ekspor akibat itu menjadi USD 3,8 miliar di 2014,” katanya. (ZIZ)
EDITOR: DHI