TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

RI Masuk Tiga Besar Negara dengan Tingkat Utang Paling Berisiko di Asia

Nurdian Akhmad
25 June 2018 | 11:00
rubrik: Ekonomi
Utang Indonesia, Untungkan Siapa?

Ilustrasi utang/istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor Service (Moody’s) memasukkan Indonesia di urutan ketiga negara dengan tingkat utang paling berisiko di Asia. Indeks kerentanan utang Indonesia mencapai 51%, sedangkan peringkat pertama diduduki Malaysia dengan indeks risiko 145,5% dan India di posisi kedua dengan indeks 74%.

Penilaian ini tidaklah mengherankan jika melihat kejatuhan mata uang Indonesia dan India yang terpukul paling parah tahun ini, dan besarnya cadangan devisa yang mereka miliki untuk menutupi utang tersebut. Demikian seperti dilansir Bloomberg, Jakarta, Minggu (24/6/2018).

Indeks kerentanan eksternal Moody’s Investors Service, yang merupakan rasio utang jangka pendek, jatuh tempo utang jangka panjang dan deposito non-penduduk selama satu tahun dihitung sebagai proporsi dari cadangan devisa.

Berdasarkan hal tersebut, Moody’s menempatkan Indonesia di urutan ketiga negara paling berisiko di Asia dengan indeks kerentanan 51% dan India di posisi kedua dengan indeks risiko 74%.

Sedangkan negara Asia yang dinilai paling berisiko adalah Malaysia dengan indeks kerentanan eksternal sebesar 145,5%. Padahal, Ringgit Malaysia justru mengalami apresiasi terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, meskipun Malaysia terbilang sebagai negara dengan risiko eksternal paling tinggi di Asia.

Sementara Filipina yang memiliki eksposur asing yang rendah tetapi mata uang mereka terburuk kedua di Asia, turun hampir 5% terhadap dolar AS.

“Kondisi keuangan global yang lebih ketat membuatnya lebih mahal untuk membiayai kembali utang luar negeri dan menambah tekanan pada mata uang. Di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Filipina,” kata Moody.

 

BACA JUGA:   Presiden Resmikan Bendungan
Previous Post

IHSG Melaju di Tengah Bursa Global Terkoreksi

Next Post

Jadi Bos BEI, Inarno sudah Melalui Pertimbangan Tim

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR