Kredit konsumsi di Indonesia tumbuh, tetapi cenderung konservatif. Ada perkiraan bahwa, di tahun 2017, masyarakat masih menahan pengeluarannya. Ke depan bagaimana?
Wah, bukan main, di sekitar awal kuartal kedua tahun 2018 ini, ada sejumlah acara di Jakarta dan sekitarnya, yang berhubungan dengan kredit konsumsi. Apa sajakah?
Satu di antara itu adalah BFI Run 2018 yang digelar di Serpong, Tangerang Selatan. Digelar oleh BFI Finance, suatu perusahaan pembiayaan yang banyak menggerojokkan kredit konsumsi, lomba lari itu berlangsung meriah serta memerebutkan total hadiah Rp 250 juta.
Acara lainnya berlangsung juga di Serpong. Ya, anda tepat, itu adalah Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 yang digelar di Jakarta.
Sudah tentu ada banyak acara lain yang terkait kredit konsumsi, bukan? Itu antara lain pameran wisata, pameran properti, dan lain-lain.
Semua itu, sekilas, menandakan bahwa kredit konsumsi sudah tumbuh baik untuk saat ini. Konsumen sudah mulai membelanjakan uang, dan dalam hal ini kredit konsumsi dari lembaga keuangan menjadi salah satu instrumen berbelanja. Di sini, penjualan sepeda motor melalui kredit berjalan lebih intensif; penjualan mobil lewat kredit kian marak; debitur yang menggaet kredit multiguna kian membanjir; dan lain-lain sejenis itu.
Tetapi, sejatinya, apakah angka kredit konsumsi memang sudah bagus belakangan ini? Hal tersebut tentunya menarik dikupas, mengingat belum lama ini pro-kontra perihal melemahnya daya beli konsumen cukup gencar. Di saat daya beli melemah atau juga stagnan, sudah tentu pertumbuhan kredit konsumsi ikut demikian, bukan?
Masih Menahan Belanja
Direktur Pelaksana Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, punya analisis menarik perihal laju tingkat konsumsi masyarakat Indonesia saat ini. Begini, dalam suatu paparan survei ke media massa, Agus membeberkan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional. Di tahun 2017 ketika PDB (produk domestik bruto) tumbuh 5%-an, konsumsi masyarakat punya andil 56% atau lebih dari separuh total PDB.
Sedangkan investasi, menyumbang 32% ke PDB. “Walhasil, sumbangan konsumsi masyarakat dan investasi ke PDB, itu dominan. Yakni mencapai 88%,” kata Agus.
Ia selanjutnya mengkritisi pencapaian kredit konsumsi. Dalam hal ini, di 2017, pertumbuhan konsumsi masyarakat sebesar 5%-an, adapun pertumbuhan investasi di 7%-an. “Sebenarnya, kalau konsumsi masyarakat lebih tinggi, PDB Indonesia bisa lebih tinggi. Sebab, andil konsumsi masyarakat ke PDB sebesar 56%,” ulas Agus.
Satu hal yang menarik dijelaskan oleh mantan eksekutif perusahaan telekomunikasi tersebut. Yakni bahwa, di tahun 2017, jumlah simpanan di perbankan naik 10% berdasarkan data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jadi, ada kecenderungan bahwa masyarakat/konsumen Indonesia masih menahan uangnya di tahun 2017.
Kini, marilah kita mengasumsikan bahwa konsumsi masyarakat terkait dengan kredit konsumsi. Ketika konsumsi masyarakat sebenarnya dalam tren tertahan di tahun 2017, apakah berarti kredit konsumsi juga tertahan di waktu yang sama?
Survei Perbankan yang dilansir Bank Indonesia di minggu ketiga April 2018 ini, ada menjelaskan pertumbuhan kredit tersebut. Bagaimana rinciannya? Oke, baiklah, mari kita longok lebih lanjut.
Di survei itu, dijelaskan bahwa di kuartal pertama tahun 2018, lima jenis kredit konsumsi mendapatkan pertumbuhan dibandingkan kuartal sebelumnya berdasarkan SBT (saldo bersih tertimbang). Adapun lima jenis tersebut adalah: KPR (kredit pemilikan rumah) dan KPA (kredit pemilikan apartemen); kredit kendaraan bermotor; kartu kredit; kredit multiguna; serta kredit tanpa agunan.
Yang mendapatkan pertumbuhan tertinggi adalah KPR/KPA sebesar 31%. Sedangkan yang terendah yakni kredit multiguna yang naik 0,8%.
Lantas, survei itu menjelaskan bahwa keseluruhan kredit konsumsi tumbuh 16,6% di kuartal pertama tahun 2018 dibandingkan kuartal sebelumnya. Tercatat, untuk kuartal pertama 2018 itu, pertumbuhan kredit konsumsi terendah dibandingkan dua jenis kredit yang lain. Rinciannya, kredit investasi tumbuh sebesar 73,5% secara kuartalan; kredit modal kerja, menggaet pertumbuhan sebesar 71,9%.
Jadi, quo vadis dengan kredit konsumsi, ya? Bagaimana kira-kira dengan pertumbuhan kredit konsumsi di tahun 2018 ini, yang juga banyak disebut sebagai tahun politik?
Pihak Kebun Sirih (Bank Indonesia) meyakini bahwa pertumbuhan kredit baru, diperkirakan menguat pada kuartal kedua 2018. Menguatnya pertumbuhan kredit didukung oleh kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar, terutama pada aspek suku bunga kredit yang lebih rendah dan biaya persetujuan kredit yang lebih murah.
Lebih lanjut, ada dijelaskan bahwa penurunan suku bunga kredit diperkirakan terjadi pada kredit modal kerja sebesar 3 bps (basis poin) menjadi 11,78%. Adapun suku bunga kredit konsumsi diprediksi turun 8 bps menjadi 14,50%.
Kalau prediksi tersebut tepat, berarti ada harapan bahwa gerojokan kredit konsumsi dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya kian bagus, bukan? Bank Indonesia pun memprediksi bahwa total pertumbuhan kredit di tahun 2018 sebesar 11,7% secara perbandingan tahunan. Walhasil, lebih tinggi ketimbang tahun 2017 yang masih di 8,2%.
Saat ini, angka inflasi di Indonesia sudah lebih rendah, tidak lagi berkisar dua digit seperti tahun-tahun sebelumnya. Lihatlah, Badan Pusat Statistik (BPS) RI belum lama ini menyatakan bahwa tingkat inflasi periode Januari 2018 sampai Maret 2018, ada di 0,99%. Lalu, inflasi tahun-ke-tahun dari Maret 2018 terhadap Maret 2017, di angka 3,40%. Dengan inflasi yang tidak lagi tinggi—dulu bisa melebihi 10%—maka jelas bahwa daya konsumsi masyarakat kini tidak terlalu terganggu oleh angka inflasi.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro, mengatakan dalam satu seminar di Jakarta bahwa pertumbuhan ekonomi potensial ekonomi Indonesia kini hanya 5,5%. “Hal itu dalam kondisi daya saing dan iklim bisnis yang sekarang,” kata Bambang.
Dia pun menjelaskan bahwa pertumbuhan PDB 5,5% belum cukup mengurangi kemiskinan, memerbaiki kesenjangan, atau juga mengurangi angka pengangguran. Maka dari itu, yang harus didorong sebagai prioritas adalah sektor manufaktur. Perbaikan menyeluruh di sektor manufaktur menjadi syarat untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi potensial di Indonesia melebihi 5,5%. “Kalau tidak melakukan apa-apa atau mengikuti kondisi sekarang, pertumbuhannya sulit mencapai 5,5%. Lain hal ketika ada terobosan di industri manufaktur yang mungkin membuat tambahan PDB 1%,” ujar Bambang.
Apakah dengan demikian penggerojokan kredit konsumsi di tanah air ini melambat dan tidak tumbuh tajam? Kepala Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra, berpendapat bahwa kredit konsumsi di tahun 2018 seyogianya tumbuh lebih baik ketimbang tahun 2017. “Tingkat inflasi yang sudah rendah dan terkendali seharusnya mendorong konsumsi masyarakat. Ketika daya beli membaik, kredit konsumsi juga membaik,” kata dia kepada wartawan majalah ini dalam suatu kesempatan.
Apakah tahun 2018 kredit konsumsi bisa tumbuh dua digit? “Yang jelas, kalau keseluruhan kredit, bisa antara high single digit dan low double digit,” jawab dia.
Aldian berpendapat bahwa datangnya peristiwa politik di tahun 2018 justru berpotensi mendorong konsumsi masyarakat. Dan oleh karena itu, otomatis bahwa kredit konsumsi bisa terdorong pertumbuhannya. “Kredit konsumsi yang porsinya besar, itu adalah pemilikan sepeda motor dan mobil. Kalau kartu kredit, saya rasa tidak terlalu besar porsinya,” papar Adrian.
Marilah kita berharap bahwa semua hal yang mendorong kenaikan kredit konsumsi, aman-terkendali. Benar? (Dhi)
Pertumbuhan Kredit Konsumsi
(Antar-Kuartal dan Berdasarkan Saldo Bersih Tertimbang)
————————————————————————————–
Jenis Kredit Konsumsi Kuartal IV 2017 Kuartal I 2018
————————————————————————————-
KPR dan KPA 60,3% 31,1%
Kendaraan Bermotor 37,7% 21,9%
Kartu Kredit 46,3% 7%
Muti-Guna 30,4% 22,4%
KTA 23,8% 0,8%
————————————————————————————
Sumber: Survei Perbankan Bank Indonesia
*Tulisan Ini Sebelumnya Dimuat di Majalah BusinessNews Indonesia Edisi Mei 2018
