TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pagi Ini, Rupiah Jatuh ke Level Rp 14.360/Dolar AS

Nurdian Akhmad
5 July 2018 | 09:27
rubrik: Business Info
Kurs Rupiah Terkerek Kenaikan Peringkat Moody’s

ilustrasi perdagangan valas. FOTO: Istimewa

Jakarta, BusinessNews Indonesia – Nilai tukar rupiah dibuka pada posisi Rp 14.360 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan hari ini, Kamis pagi (5/7). Posisi ini melemah 13 poin atau 0,09 persen dari penutupan Rabu (4/7) kemarin, di posisi Rp14.347 per dolar AS.

Beberapa mata uang negara di kawasan Asia juga melemah. Mulai dari won Korea Selatan melemah 0,35 persen, renmimbi China minus 0,16 persen, baht Thailand minus 0,13 persen, peso Filipina minus 0,11 persen, dolar Singapura minus 0,11 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,04 persen.

Hanya, ringgit Malaysia dan yen Jepang yang berhasil menguat dari dolar AS, masing-masing 0,01 persen dan 0,06 persen.

Sementara, mata uang negara maju bervariasi, rubel Rusia melemah 0,06 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,04 persen. Namun, dolar Australia berhasil menguat 0,01 persen dan euro Eropa 0,02 persen.

Penguatan rupiah merupakan kedua tertinggi di kawasan Asia setelah won Korea Selatan sebesar 0,37 persen. Setelah itu, penguatan rupiah diikuti renmimbi China 0,23 persen dan ringgit Malaysia 0,14 persen.

Lalu, yen Jepang 0,08 persen, baht Thailand 0,03 persen, peso Filipina 0,03 persen, dolar Singapura 0,02 persen, dan dolar Hong Kong 0,02 persen. Hanya rupee India yang melemah 0,09 persen di hadapan dolar AS.

Sedangkan, mata uang negara maju justru mayoritas melemah. Rubel Rusia melemah 0,2 persen, euro Eropa minus 0,17 persen, dolar Kanada minus 0,1 persen, franc Swiss minus 0,04 persen, dan dolar Australia minus 0,01 persen. Namun, poundsterling Inggris naik 0,11 persen.

Reza Priyambada, Analis Senior CSA Research Institute melihat rupiah berpeluang kembali menguat, meski dibuka melemah pagi ini. Sebab, dolar AS diperkirakan masih melemah karena pelaku pasar cenderung melepas mata uang Negeri Paman Sam di saat kebijakan pengenaan tarif bea masuk untuk barang impor dari China akan diberlakukan.

BACA JUGA:   ICDX Terus Bangun Ekosistem Terintegrasi

“Di sisi lain, penguatan rupiah turut terimbas kenaikan renmimbi China setelah bank sentral negara tersebut melakukan upaya untuk menahan pelemahan mata uang mereka,” imbuh Reza seperti dikutip CNN Indonesia.

Selain itu, pelemahan dolar AS juga dipengaruhi sentimen dari penguatan euro Eropa dan pasar menanti sentimen internal di AS. Mulai dari rilis data ketenagakerjaan hingga petunjuk rapat bank sentral AS, The Federal Reserve.

Dari dalam negeri, Reza melihat ada satu sentimen yang mampu menjaga rupiah, yaitu pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang menilai bahwa ekonomi Indonesia kuartal II 2018 bisa menembus 5,2-5,3 persen.

Ia memperkirakan sejumlah sentimen ini kembali berlanjut dan membuat rupiah bisa menguat di kisaran Rp14.339-14.350 per dolar AS. “Pergerakan rupiah mampu memanfaatkan penguatan sejumlah mata uang utama lainnya, selain dolar AS,” ujarnya.

Tags: dolar ASrupiah
Previous Post

Pasokan Kantor Jakarta Masih Tambah Sampai 2022

Next Post

IHSG Dibuka Jeblok, Turun ke Level 5.727

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR