Jakarta, BusinessNews Indonesia – Porsi ekspor produk-produk halal Indonesia ke negara lain baru sebesar 21 persen dari total ekspor nasional.
Angka tersebut memang masih kecil dibanding dengan potensinya yang besar. Apalagi ternyata, ekspor produk halal itu belum menyasar ke negara-negara muslim, melainkan lebih mengacu ke negara-negara yang memiliki ekonomi besar, seperti China dan Amerika Serikat.
Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, berdasarkan data Comtrade 2017, peran ekspor produk halal Indonesia memang baru mencapai 21 persen dari total ekspor secara keseluruhan.
“Namun sayangnya, ekspor itu belum menjangkau negara-negara Islam di dunia. Jadi kita lihat komposisinya itu belum maksimalkan ekspor ke negara konvensi Islam, seperti UEA (Uni Emirat Arab) maupun Mesir. Itu masih kecil,” ungkap Bambang di Jakarta, Rabu (25/7/2018).
Sejauh ini, kata dia, ekspor produk-produk halal lebih menyasar ke negara yang memiliki ekonomi besar seperti India, China, dan Amerika Serikat.
“Kita melihat arah ekspor masih market drive karena ekonomi yang besar. Itu yang membuat ekspor kita ke sana (tiga negara itu),” jelasnya.
Untuk itu, kata dia, ekspor produk-produk halal yang berasal dari industri sektor riil ini harus digenjot, karena mampu berkontribusi besar pada peningkatan ekspor di Indonesia. Jika bis dioptimalkan, kata Bambang, bisa mendorong perbaikan defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD).
“Untuk mendorong perbaikan defisit transaksi berjalan, ekspor terus ditingkatkan. Untuk itu pemerintah harus dapat secara maksimal memanfaatkan berbagai peluang untuk meningkatkan komoditas untuk diekspor, termasuk melalui produk halal,” tutur dia.
Lebih jauh dia menegaskan, beberapa potensi produk halal terbesar meliputi sektor industri makanan, minuman dan turunannya, sektor industri farmasi, dan sektor industri kosmetika. Untuk itu, sektor tersebut perlu digenjot untuk meredam impor yang terus meningkat.
“Jadi market creation dan product creation itu harus jadi fokus di tahun 2019 nanti. Karena kita harus tahu mau ke mana ekspornya itu serta produk apa yang ke sana? Juga produk olahan mana yang harus diekspor ya,” pungkas dia.
