Jakarta, BusinessNews Indonesia – Di tengah tren investasi yang masih mengalami perlambatan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatatkan realisasi investasi langsung selama Januari-Juni 2018 mencapai Rp361,6 triliun.
Angka tersebut memang mengalami pertumbuhan tipis sebesar 7,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu (year on year/yoy) yang sebesar Rp336,7 triliun.
Namun demikian jika ditengok dari kinerja per kuartal, ternyata kuartal II-2018 ini alami penurunan sebesar 4,9 persen secara quarter to quarter.
“Pada triwulan I-2018 nilai investasi sebesar Rp185,3 triliun atau turun menjadi Rp176,3 triliun di triwulan II-2018 ini. Berarti memang ada tren perlambatan investasi signifikan seperti juga yang pernah diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) itu,” ungkap Kepala BKPM, Thomas Lembong di Jakarta, Selasa (14/8/2018).
Meski begitu, kata dia, jika dilihat secara yoy capaian nilai investasi di kuartal II-2018 ini tetap bertumbuh, meskipun tipis. Di kuartal II-2017 sebesar Rp170,9 triliun atau bertumbuh 3,1 persen.
Lebih jauh Lembong menegaskan, tren investasi yang tumbuh melambat itu, karena memang nilai investasi dari penanaman modal asing (PMA) itu menurun dibanding tahun lalu. Sekalipun hal itu ditutupi oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang meningkat.
“Kontribusi proyek investasi yang dibiayai seluruhnya oleh PMDN naik menjadi Rp157,0 triliun atau 43,4 persen dari Rp129,8 triliun alias 38,6 persen di semester I-2017 lalu,” kata dia.
Sementara untuk PMA atau foreign direct investment (FDI) tercatat mengalami penurunan dari Rp206,9 triliun (61,4 persen) di semester I-2017 menjadi Rp204,6 triliun (56,6 persen) di enam bulan pertama tahun ini.
Jika dilihat dari sektornya, dia melanjutkan, sektor properti dan kawasan industri mencatat realisasi investasi tertinggi sebesar Rp 43,4 triliun (12,0%), diikuti pertambangan Rp42,4 triliun (11,7%), logistik dan telekomunikasi Rp 40,3 t (11,1%), utilitas Rp 40,1 triliun (11,1%), serta industri logam, mesin, dan elektronik Rl35,8 t (9,9%). Sedang sisanya sektor lain sebesar Rp 159,6 t (44,1%).
Untuk sebesar nilai investasinya, imbuh Lembong, kawasan pulau Jawa tetap yang menjadi favorit dengan porsi 57 persen atau Rp 206,2 triliun
Kemudian Sumatera menjadi wilayah terbesar kedua yang berkontribusi terhadap nilai investasi di Indonesia sebesar Rp 58,4 triliun (16,2%), disusul oleh Kalimantan Rp 48,6 triliun (13,4%), Sulawesi Rp 23,5 t (6,5%), Bali dan Busa Tenggara di angka Rp 12,6 triliun (3,5%), serta Papua Rp 12,3 triliun (3,5%).
