Jakarta, BusinessNews Indonesia – Pengembang kenamaan, PT Intiland Development Tbk (DILD) memastikan pihaknya batal untuk menerbitkan obligasi global (global bond) senilai US$ 250 juta atau setara Rp3,62 triliun.
Aksi korporasi tersebut batal dilakukan akibat pihaknya tak menyanggupi permintaan kupon dari investor global yang terlalu tinggi yakni double digit. Dengan batalnya hal itu, maka perseroan pun bakal kembali mencari pendanaan dari perbankan.
“Investor global minta kuponnya di atas 11 persen. Sementara kami mengharapkan hanya single digit. Karena yield yang diminta terlalu tinggi, jadi kami mundur,” jelas Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (28/8/2018).
Intiland sendiri sebetulnya sudah mendapatkan rating yang cukup positif terkait rencana penerbitan obligasi global tersebut.
Seperti Moody’s telah memberikan rating BB dan Fitch Rating mengganjar rating B flat. Sementara para pemegang saham juga telah memberikan restunya.
“Ini (penerbitan global bond) adalah diversifikasi pendanaan kita ya. Selama ini perseroan lebih banyak mencari dana dari pinjaman perbankan. Tapi kan suku bunganya tinggi rata-rata sekitar 12 persen,” terang Archied.
Lebih jauh dia menegaskan, batalnya penerbitan obligasi ini juga tak lepas dari kondisi keuangan global yang belum terlalu stabil. Makanya perseroan mengaku saat ini sebetulnya bukan merupakan waktu yang tepat untuk menerbitkan obligasi global.
“Lantaran salah satunya dipengaruhi oleh fluktuasi kurs yang masih terjadi,” ungkap dia.
Archied menambahkan, semula penerbitan obligasi global itu juga bertujuan sebagai refinancing atau pembiayaan kembali atas utang-utang perbankan perseroan sebelumnya.
“Sekarang karena batal dirilis maka perseroan akan kembali melakukan siasat dengan mencari pendanaan dari pinjaman perbankan yang ada,” ujar dia lagi.
