Jakarta, BusinessNews Indonesia – Laju nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan akhir pekan ini terlihat masih bertengger di zona hijau, meski tak lama kemudian kembali melemah.
Mengutip Bloomberg, Jumat (14/9/2018), rupiah dibuka di level 14.801 atau menguat 39 poin dari penutupan kemarin di posisi 14.840. Namun tak lama kemudian, mata uang NKRI itu melemah ke posisi 14.833 atau turun 6,2 poin atau 0,04 persen.
Menurut analis pasar uang dari AAEI, Reza Priyambada, kondisi rupiah ini karena terpengaruh oleh kondisi USD yang cenderung tertekan.
“Sehingga diharapkan dapat berimbas positif pada pergerakan Rupiah. Maka pelemahannya bisa berkurang di perdagangan hari ini,” jelas Reza dalam daily report-nya, Jumat (14/9/2018).
Sebelumnya, rupiah sendiri masihbbergerak stagnan. Meski adanya himbauan sekaligus pernyataan dari Lembaga Pemeringkat seperti Moody’s terkait dengan pelemahan Rupiah ternyata direspon cukup varaitif pelaku pasar. Akibatnya pergerakan ruoiah sendiri sempat bergerak stagnan.
Moody’s sendiri menyampaikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih bisa mengatasi pelemahan Rupiah.
“Namun, jika pelemahan rupiah berlanjut semakin dalam, maka berpotensi menimbulkan dampak negatif yang lebih luas. Apalagi, pemerintah dan korporasi banyak bergantung terhadap pendanaan dari luar,” tegas dia.
Sementara dari sentimen global, terlihat yang membuat pergerakan USD cenderung melemah seiring berkurangnya permintaan atas mata uangsafe haven yakni USD
Penurunan ini setelah merespon rencana pemerintah AS yang akan melakukan renegosiasi dagang dengan Tiongkok. Ditambah lagi, depresiasi rupiah juga terimbas turunnya indeks harga konsumen AS.
“Di perkirakan Rupiah akan bergerak di kisaran 14.842-14.830. Makan tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” tegas Reza.
