Jakarta, BusinessNews Indonesia – Pesta demokrasi yang akan demokrasi yang akan digelar pada 2019 nanti, yakni Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) dirasa tak akan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di teritori negatif.
Menurut Kepala Riset dan Strategi PT Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, pada tahun politik 2019 nanti dengan adanya dua agenda yakni Pilpres dan Pileg, dimana pola kampanye saat ini tak terpolarisasi sebagaimana pemilihan Gubernur Jakarta, maka sentimen negatifnya ke IHSG relatif kecil.
“Karena pergerakan IHSG itu selalu punya arah pergerakan di setiap pesta demokrasi. Ini mengingat pemilu yang lancar dan damai itu sangat penting dalam membangun kepercayaan investor,” ujar dia di Jakarta, Rabu (19/9/2018).
Kondisi itu juga karena salah satunya ditopang oleh kebijakan pemerintah yang akan memprioritaskan kebijakan populis. Terutama meningkatkan konsumsi, termasuk belanja sosial dan subsidi.
Helmy juga mengeksplorasi beberapa sektor yang menjadi perhatian Danareksa pada semester 2/2018 dan tahun 2019 yang patut menjadi perhatian investor. Seperti sektor otomotif, perbankan, tambang batu bara, konsumer, perkebunan, ritel, konstruksi dan telekomunikasi.
“Pertumbuhan sektor-sektor tersebut juga akan dipengaruhi sentimen ekonomi global dan dalam negeri,” cetus dia.
Khusus global, kata dia, misalnya, sektor tambang batu bara akan mendapat sentimen positif seiring dengan naiknya permintaaan komoditas ini dari China dan Korea Selatan, dan harga batu bara pun diprediksi US$88 per ton pada tahun ini.
Adapun perbankan, dia memprediksi penyaluran kredit pada 2019 bisa tumbuh 12,8% dengan katalis positif subsidi suku bunga tahun 2019 yang dianggarkan sebesar Rp16,6 triliun. Pada sektor konsumer, Pilpres dan Pileg 2019 akan mendorong belanja masyarakat.
“Kami memprediksi pada tahun depan, pendapatan sektor ini [konsumer] tumbuh 7,6% year on year, dengan kenaikan pertumbuhan laba 8,7% secara yoy,” kata dia.
Di sisi lain, sektor konstruksi akan mendapat sentimen positif. Dalam APBN, pemerintah mengalokasikan bujet infrastruktur mencapai Rp420,5 triliun, lebih tinggi dari alokasi 2018 sebesar Rp 410,7 triliun.
“Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam melanjutkan proyek infrastruktur, kendati fokus nanti pada human capital,” ujar dia.
Selain itu, khusus sektor otomotif, pihaknya memprediksi netral. Kompetisi yang semakin ketat, banyaknya model mobil baru yang dirilis, membaiknya harga komoditas dan pengembangan infrastrukur akan mendorong pemulihan penjualan mobil komersial.
“Untuk itu, kami yqkin IHSG pada tahun ini akan berada di kisaran 6,275-6,553, sedangkan indeks bisa mencapai level 7,000 pada akhir tahun 2019, jika kestabilan pertumbuhan ekonomi dan rupiah bisa terus terjaga,” tutup Helmy. (Tomy)
