Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di awal bulan ini diprediksi masih akan berada di zona merah. Hal ini karena masih belum ada sentimen positif.
Mengutip Bloomberg hari ini, rupiah sehatinya dibuka menguat ke posisi 14.897 atau terapresiasi 5 poin dari posisi penutupan Jumat lalu di level 14.902. Namun kemudian trennya terus melemah di 10 menit pertama saja sudah bertengger di 14.911.
Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, secara tren pergerakan Rupiah masih cenderung mendatar dan bahkan berpotensi kembali melemah.
“Apakagi jika tidak ada sentimen positif yang dapat direspon dengan baik. Makanya rupiah bergantung pada data-data ekonomi awal bulan ini,” tandas Reza dalam daily report-nya, Senin (1/10/2018).
Siang nanti, Badan Pusat Statistik (BPS) memang akan mengumumkan dana inflasi September 2018 dan data-data lainnya. Diharapkan bisa menjadi sentimen positif bagi rupiah.
“Iya rilis data-data ekonomi di awal pekan ini diharapkan mampu memberikan sentimen positif pada Rupiah serta mampu mengimbangi sejumlah sentimen yang memperkuat laju USD,” kata dia.
Untuk itu, dia pun memprediksi laju rupiah pada hari ini akan dibergerak di kisaran 14.936-14.920. “Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” saran dia.
Sebelumnya, kata Reza, pergerakan negatif masih terjadi pada Rupiah yang belum juga merespon sentimen dari Bank Indonesia (BI) yang mebaikkan suku bunga acuannya 7D-RR sebanyak 25 bps. Ternyata ini menjadi pola yang sama, di mana kebijakan BI itu tidak banyak berimbas pada Rupiah.
Di sisi lain, pergerakan USD menguat seiring dengan melemahnya laju EUR pasca adanya sentimen negatif dari Italia.
Ditambah lagi, pelaku pasar melihat belum usainya perang pengenaan tarif impor dagang antara AS dan Tiongkok membuat permintaan akan mata uang safe haven masih meningkat, sehingga memperkuat laju USD. (Tomy)
