Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi akan semakin terpuruk. Bahkan saat ini sudah melebihi level 15.000.
Di sesi perdagangan pagi, mengutip Bloomberg, rupiah dibuka dilevel 15.065, kembali menjadi level tertinggi sejak krisis moneter 1998 silam. Angka itu melemah 23 poin dari penutupan kemarin di posisi 15.042. 30. Bahkan terua meroaot hingga 15.087 dalam 30 menit pertama.
Menurut analis pasar uang dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada, rupiah yang masih berada di zona merah ini akan kembali berpotensi terpuruk.
“Sebab belum adanya kejelasan upaya mengurangi gejolak ekonomi dan politik di Italia memberikan imbas negatif pada EUR yang dapat berimbas pada kembali melemahnya laju Rupiah,” jelas Reza dalam daily report-nya, Rabu (3/10/2018).
Dia menegaskan, kondisi global tersebut telah berimbas kenaikan USD seiring dengan pelemahan EUR pasca kondisi ekonomi dan politik yang kembai bergejolak membuat laju Rupiah di teritori negatif.
“Bahkan pelemahan IDR kali ini dinilai lebih dalam sejak tahun 1998 dan memimpin pelemahan dibandingkan sejumlah mata uang negara-negara berkembang,” ujar dia.
Ditambah lagi, berbalik naiknya imbal hasil obligasi AS yang diikuti dengan kenaikan harga minyak mentah dunia juga memberikan imbas negatif pada Rupiah.
“Kenaikan tersebut dinilai dapat membuat defisit neraca berjalan berpotensi meningkat sehingga memberikan imbas negatif pada Rupiah,” jelas Reza.
Dengam kondisi tersebut, dia memperkirakan laju Rupiah akan bergerak di kisaran 15.100-15.029. Diharapkan pelemahan dapat lebih terbatas untuk mengurangi potensi pelemahan lebih lanjut.
“Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah,” kata dia.
Penulis: Tomy
