Jakarta, TopBusiness – Perusahaan pembiayaan PT Pool Advista Finance Tbk tengah melepas sebagian sahamnya ke publik melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Dari dana IPO ini, perseroan bisa menggenjot belanja modal (capex) untuk memperkuat asetnya.
Menurut Direktur Utama Pool Advista, Asa Mirzaqi, aset perseroan hingga akhir 2018 diproyeksi bisa mencapai Rp508 miliar, sedangkan hingga akhir Juli tahun ini sudah di posisi Rp325,59 miliar atau meningkat dibandingkan posisi di akhir 2017 yang senilai Rp279,9 miliar.
“Untuk itu rencana mengakuisisi aset dengan pembelian kantor akan menambah aset perseroan. Sehingga sampai akhir tahun nilai aset Pool Advista akan sebesar Rp508 miliar,” jelas dia di Jakarta, Rabu (24/10/2018).
Dia menegaskan, sebesar 50 persen dari dana hasil IPO itu akan dianggarkan sebagai capex yang dibagi menjadi dua porsi, yakni pengembangan infrastruktur dan mengakuisisi atau pembelian aset kantor pusat yang selama ini masih sewa.
Perlu diketahui, Pool Advista berencana melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) sebanyak banyaknya 800 juta saham baru dengan kisaran harga Rp125-Rp150 per saham.
Lebih lanjut Asa mengatakan, rencana pembelian aset berupa kantor pusat tersebut membutuhkan dana sebesar Rp45 miliar. Dia mengatakan, aset tersebut nantinya bisa dimanfaatkan sebagai jaminan sumber pendanaan dari perbankan.
Menurutnya, saat ini sudah ada dana untuk pembiayaan yang akan disalurkan mencapai Rp170 miliar, sehingga sampai akhir tahun nilai aset Pool Advista diyakini bisa mencapai Rp508 miliar.
“Sampai akhir 2019, aset kami targetkan bisa mencapai Rp700 miliar,” imbuhnya.
Asa menambahkan, pada tahun ini perseroan menganggarkan capex Rp26 miliar yang hingga akhir Juli 2018 sudah terserap 60 persen. Sementara, pada 2019 perseroan membutuhkan dana sebesar Rp200 miliar yang akan bersumber dari pinjaman perbankan dan penerbitan surat utang di pasar modal.
Direktur Bisnis/Independen Pool Advista, Arfianto Wibowo menegaskan, kinerja perseroan di industri pembiayaan produktif sangat baik. Hingga Juli 2018, total pembiayaan mencapai Rp258,35 miliar.
Terdiri dari pembiayaan investasi (Rp90,08 miliar), pembiayaan modal kerja (Rp85,14 miliar), pembiayaan multiguna (Rp82,91 miliar), dan pembiayaan syariah (Rp220 juta).
“Sampai akhir 2017, perseroan mampu membukukan total pembiayaan sebesar Rp180,27 miliar. Dilihat dari total portofolio pembiayaan, kami masih fokus di pembiayaan sektor produktif terutama investasi, dan pembiayaan modal kerja. Ini untuk mitigasi risiko,” jelas dia.
Penulis: Tomy
