Jakarta, TopBusiness – Data surplus produksi beras Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 2,85 juta ton dinilai dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk membatasi impor.
Pasalnya, surplus beras sebanyak itu, menurut Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi), Sutarto Alimoeso, bisa menjaga stabilitas pasokan hingga akhir tahun.
“Kuncinya ada pada penyerapan beras petani oleh Bulog di bulan Oktober-Desember. Kalau surplus bisa terserap separuhnya, stok bisa ditahan hingga Maret ketika musim panen, dan tak perlu impor,” tegas Sutarto di Jakarta, Kamis (25/10).
Sebelumnya, pada Senin (22/10), BPS mengeluarkan data produksi padi dan luas lahan sawah yang dihitung dengan metode baru kerangka sampel area (KSA). Potensi surplus beras 2,85 juta ton diperoleh dari selisih proyeksi produksi beras 32,42 juta ton dengan konsumsi 29,57 juta ton per tahun.
Angka tersebut berada di bawah proyeksi produksi beras BPS dengan metode lama yang dilansir Kementerian Pertanian, yakni 46,5 juta ton.
Terkait hal itu, Kementerian Pertanian pun menyebut data BPS yang menyatakan surplus beras mencapai 2,8 juta ton hingga Desember 2018 itu memastikan kebutuhan beras domestik dapat dipenuhi oleh produksi pangan dalam negeri.
Padahal, menurut Sekretaris Jendral (Sekjend) Kementan Syukur Iwantoro, dalam empat tahun terakhir terjadi peningkatan populasi sebesar 12,8 juta jiwa, sehingga jumlah penduduk pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Artinya, dibanding sebelumnya, ada kenaikan kebutuhan beras sekitar 1,7 juta ton.
“Ternyata dengan peningkatan jumlah penduduk itu tidak ada gejolak harga. Artinya peningkatan 1,7 juta ton itu masih terpenuhi oleh pangan yang ada di dalam negeri,” ujar Syukur dengan menyebut pemerintah terus upayakan swasembada beras.
Penulis: Tomy
