Jakarta, TopBusiness—Pada triwulan III-2018, penjualan properti hunian menurun sebesar -14,14% (quarter to quarter/qtq), lebih rendah dibandingkan -0,08% (qtq) pada triwulan sebelumnya. Penurunan penjualan properti hunian terjadi pada semua tipe rumah, terutama disebabkan oleh menurunnya permintaan konsumen, terbatasnya penawaran perumahan dari pengembang, dan tingginya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR).
Demikian dijelaskan dalam ringkasan Survei Harga Properti Residensial terbaru, yang dipublikasikan Bank Indonesia (8/10/2018).
Dijelaskan bahwa survei itu mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti hunian di pasar primer. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh sebesar 0,42% (qtq), melambat dibandingkan dengan IHPR triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,76% (qtq).
Perlambatan kenaikan harga properti hunian bersumber dari tipe rumah kecil dan menengah.
Survei itu pun memprediksi bahwa pada triwulan IV 2018, harga rumah diperkirakan mulai meningkat sebesar 0,52% (qtq), terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.
Hasil survei mengindikasikan bahwa dana internal masih memiliki porsi yang besar dalam pembiayaan pembangunan properti hunian. Hal itu tercermin dari pangsa dana internal pengembang yang mencapai sebesar 55,73%.
Sementara itu, sumber pembiayaan konsumen dalam membeli properti hunian, masih didominasi oleh KPR sebesar 77,20%.
Penulis: Adhito
