Jakarta, TopBusiness – Emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2018 ini sudah mencapai 50 emiten baru. Hal ini usai PT. Dewata Freight International Tbk (DEAL) pagi tadi mencatatkan saham perdananya di bursa.
Ini tentu sejarah baru bagi kinerja BEI. Untuk itu menurut mantan Direktur Utama BEI, Tito Sulistio kinerja BEI harus diapresiasi karena itu bukan sesuatu yang mudah.
“IDX (BEI) itu hebat. (Mencapai emiten) 50 bukan angka mudah. Betul, pernah tercatat 66 perusahaan dalam setahun di BEJ (Bursa Efek Jakarta) dulu, tapi itu karena adanya (kebijakan) Pakto,” ujar Tito di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sekadar informasi, Tito sendiri sebagai Dirut BEI era 2015-2018. Dan pencapaian 50 emiten baru ini tentu ada kontribusinya karena diganti pada Juli 2018 lalu oleh Inarno Djayadi.
Sementara kebijakan Pakto yang dimaksud Tito adalah kebijakan Pakto 88 di sektor keuangan yang saat itu untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan pasar modal.
Lebih jauh dia menegaskan, dalam keadaan market global yang tengah goncang-ganjing, kondisi ketidakpastian (uncertainty) juga meningkat. Sehingga bisa mencapai 50 emiten baru itu sejarah terbesar kedua dan yang sebelumnya 47 emiten di 1994 dan 37 emiten 2017.
Tito pun memberi contoh kinerja pasar modal di negara lain. Sampai September kemarin, di bursa Singapura baru 14 emiten baru, Vietnam 8, Malaysia 16, Thailand 7 bahkan Philipine hanya 1 emitan.
“Di Indonesia sampai 50 emiten baru. Itu keren! Selama 5 tahun terakhir emiten Indonesia sudah growth (bertumbuh) sebanyak 24% dari hanya 473 ke lebih dari 600 emiten,” urai Tito.
Bandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang justru tidak mengalami growth atau stagnant di angka 910 emiten. Sedang Singapura bahkan minus 4% jumlah emitennya.
“Pertanyaannya bagaimana kedepannya? Bagaimana agar BEI bisa bekerja secara efisien mempersiapkan diri, mendistribusikan informasi pasar modal, memastikan order transaksi bisa lebih terfasilitasi dan biaya transaksi bisa sangat efisien,” kata Tito.
Tito pun memberi masukan dan kritik agar BEI sewajarnya bisa secara efektif mengembalikan dana yang diakumulasi kepada industri keuangan.
“Pasar modal tidak akan menjadi penyebab dari suatu krisis tapi imbasnya akan selalu naik lebih dahulu dari naiknya perekonomian dan turun tergerus mendahului krisis keuangan yang akan terjadi,” ujar dia.
Sehingga, kata dia, jika efisiensi kerja bursa efek didukung oleh efektifitas aktifitas dari BEI sendiri, maka angka 66 emiten baru dalam setiap tahunnya bisa tercapai.
Penulis: Tomy
