TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Pertumbuhan Ekonomi 2014 Diperkirakan 5,3 Persen oleh Ekonom Ini

Nurdian Akhmad
10 June 2014 | 15:18
rubrik: Ekonomi
Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa

Jakarta, businessnews.id — Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, menilai bahwa laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Indonesia tahun 2014 di angka 5,3 persen.

“Pada kuartal pertama, LPE berkisar pada 5,1 persen hingga 5,2 persen, namun akan membaik pada kuartal ketiga dan keempat. Sehingga, LPE tahun 2014 akan mencapai 5,3 persen,” kata dia di Jakarta (9/6/2014).

Perkiraannya, perbaikan di kuartal ketiga dan keempat disebabkan faktor peningkatan invetasi, dan membaiknya perekonomian Eropa dan Amerika Serikat.

Di dua kuartal itu, akan terjadi peningkatan investasi dengan besaran 5 persen hingga 6 persen dari GDP (gross domestic product). “Memang, besar investasi tidak sampai 8 persen sebab pertumbuhan beberapa sektor industri tertahan. Itu seperti sektor perbankan yang menahan laju kreditnya pada angka 15 persen sampai 17 persen.”

Kredit valuta asing pun, dia mengatakan, juga sangat diawasi secara ketat oleh Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perbaikan ekonomi Indonesia juga diharapkan muncul dari perbaikan di Eropa dan Amerika Serikat di mana dua kawasan itu menjadi tujuan ekspor nomor tiga dan empat dari produk Indonesia.

BI Rate Naik

Destry pun mengatakan, di kuartal ketiga 2014, BI akan kembali mengerek suku bunga acuan. Itu karena current account defisit (CAD) yang kian melebar.

Menurut dia, kalau sektor riil tidak bisa dibenahi oleh pemerintah maka CAD akan tinggi di kuartal kedua dan ketiga: di angka 3,5% dari GDP. “Sehingga BI tidak ada jalan selain menaikkan suku bunga 25 basis point.”

Selanjutnya, dia menjelaskan bahwa, menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sektor perbankan tahun 2020, perbankan nasional harus konsolidasi. “Jangan tunggu krisis baru melakukan konsolidasi, saat ini sudah saatnya melakukan konsolidasi terutama dalam menghadapi persaingan MEA 2 dan pemenuhan Basel III.”

BACA JUGA:   KUR 2026 Disiapkan Rp 300 Triliun, Suku Bunga Diseragamkan Jadi 6 Persen

Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, jumlah banknya hanya tiga namun asetnya besar. DBS punya aset USD 319 miliar; OCBC nilai asetnya USD 277,7 miliar. Sedangkan bank terbesar di RI yakni Bank Mandiri yang asetnya USD 60,7 miliar.

Indonesia memiliki 120 Bank, namun 101 bank hanya menguasai 30 persen aset perbankan nasional. Sedangkan 10 bank menguasai 70 persen aset perbankan nasional.

Kata dia, perbankan nasional juga mengalami kesulitan likuiditas. Dalam simulasi riset, terlihat bahwa jika laju pertumbuhan kredit perbankan nasional masih di 20 persen hingga akhir tahun, maka LDR (loan to deposit ratio) perbankan nasional akan mencapai 100 persen di tahun 2015. (Abdul Aziz)

Editor: Achmad Adhito

Tags: pertumbuhan ekonomi 2014
Previous Post

Indeks Saham Turun 52 Poin ke 4885,08

Next Post

Pemerintahan Baru Harus Jadikan Perumahan Industri Strategis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR