Jakarta, TopBusiness – Likuiditas di sektor keuangan terutama perbankan dirasa akan terus mengetat di tahun depan. Hal itu karena masih kencangnya laju kredit sementara di sisi lain simpanan di perbankan tak terlalu kuat.
Hal ini disampaikan Dewan Komisoner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Destry Damayanti dalam sebuah diskusi ‘Winning in a Turbulent Economy’ di Jakarta, Rabu (28/11/2018).
Menurut Destri di saat tahun politik itu sebetulnya dari sisi domestik tak terlalu mengkhawatirkan, apalagi aspek belanja atau spending masih tinggi. Artinya secara keseluruhan perekonomian tak mengkhawatirkan.
“Cuma di sektor keuangan itu masih ada ancaman soal likuiditas. Makanya nanti likuiditas masih akan ketat,” ungkap dia.
Menurutnya dengan adanya risiko likuiditas itu banyak bank akan lebih hati-hati. Apalagi dari aspek global, suku bunga The Fed fund rate (FFR) masih berpotensi naik lagi di Desember nanti. Dan tahun depan bisa terjadi kenaikan sebayak 2-3 kali.
“Sehingga BI pun akan kian menaikkan suku bunga acuannya. Ini yang harus diantisipasi pasar,” jelas dia.
Rasio likuiditas yang ketat ini sudah terlihat dari posisi rasio pinjaman terhadap simpanan (Lloan to Deposite ratio/LDR) yang saat ini sudah di angka 94 persen.
“LDR di 94 persen itu jelas likuiditas kian ketat. Apalagi kalau sudah mendekati 100 persen itu ekonomi kita akan menghadapi masalah besar,” tandas dia.
Saat ini yang terjadi, laju kredit itu relatif kencang. Bahkan sudah sampai 14 persen. “Tapi dana yang masuk (DPK) masih seret. Jadi itu kredit yang mana? Kalau itu kredit investasi sih masih positif seperti yang dilakukan banyak perusahaan,” tandas mantan ekonom Bank Mandiri ini.
Penulis: Tomy
