Jakarta, TopBusiness – Manajemen PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) tidak menampik bahwa kinerja perseroan tahun ini masih akan merugi akibat gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sebab, hampir seluruh produk KONI didatangkan dari China. Namun di sisi lain, perseroan tidak dapat mengantisipasi rugi kurs karena hal tersebut merupakan faktor global.
“Sekarang kan yang tegang itu justru politik di luar itu yang pengaruhi kurs dolar. Kami harap dolar bisa turun ke Rp 13.000 lagi itu bagus banget. Jadi selisih kurs kami malah bisa jadi plus,” kata Direktur KONI Rudy Lauw kepada media di Jakarta, Senin (17/12).
Hingga September 2018, perusahaan ini mencatat kerugian bersih Rp 7,18 miliar, membesar daripada kerugian periode yang sama tahun sebelumnya Rp 3,37 miliar. Kerugian KONI ini dipicu oleh rugi kurs yang mencapai Rp 6,57 miliar dan beban bunga Rp 1,82 miliar.
Rudi menargetkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 140 milar atau naik 25 persen dari pendapatan tahun lalu. Dia optimistis bahwa target tersebut bakal tercapai dalam dua minggu menuju akhir tahun ini. Sebab, menurutnya volume pesanan baru akan melonjak di minggu terakhir.
“Tercapai, ini akan tercapai target kami Rp 140 miliar. Sekarang sudah mendekati, pendapatan sudah di atas Rp 136 miliar. Sudah dekat, enggak jauh lagi. Biasanya detik-detik terakhir itu baru banyak,” ungkap Rudy.
Menurutnya kenaikan pendapatan tersebut diperolehan dari segmen fotografi dan advertising. Rudy mengaku, performa harga produk fotografi masih stabil sepanjang 2018, seperti Mitshubisi color paper, dye sub printer DNP dan inkjet paper. Sedangkan untuk flexi banner, Rudy mengatakan volume pasar masih besar dan lebih mudah untuk melakukan penetrasi pasar.
