Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diprediksi masih akan melemah, meski di sesi pembukaan pagi terlihat terapresiasi sedikit.
Mengutip Bloomberg, mata uang NKRI itu dibuka menguat tipis di posisi 14.450 atau menguat 7 poin dari penutupan kemarin di level 14.457. Namun dalam satu jam pertama rupiah sudah kr zona merah di tangga 14.491 alias anjlok 33,8 poin atau 0,23%.
Menurut analis pasar uang Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta secara teknikal, laju rupiah hari ini akan terkoreksi wajar.
“Apalagi hari ini secara fundamental tak ada sentimen positif dari dalam negeri. Justru sentimen makro global yang akan lebih berpengaruh,” tutur dia di Jakarta, Kamis (3/1/2019).
Data makro ekonomi global yang bisa membuat USD menguat adalah rilis data manufaktur AS (PMI) mengalami kenaikan ke posisi 50,72. Meski angka tersebut dianggap masih rendah dibanding sebelumnya tapi bisa mengangkat optimisme pasar.
“Itu akan menjadi high market impact di tengah perang dagang AS-China. Karena pasar melihat industri manufaktur AS masih ekspansif,” jelas Nafan.
Dia menambah, kondisi sentimen domestik sendiri usai dirilisnya data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin menunjukkan angka yang stabil. Dengan inflasi 0,62% di Desember 2018 membuat inflasi tahunan di posisi 3,31%.
“Tapi kondisi itu masih terkendali dan stabil, sehingga mestinya bisa menjadi sinyaelemen positif,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Nafan memproyeksi tingkat support rupiah akan di rentang 14.380, sedang posisi resistance rupiah akan ada di kisaran 14.560.
“Pelaku pasar tetap waspadai sentimen yang bisa memengaruhi pasar,” katanya.
Penulis: Tomy
