Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) yang beberapa hari ini terparesiasi dan sempat menyentuh 13.900-an ternyata disambut tak terlalu bahagia oleh kalangan pengusaha.
Hal ini karena fluktuasi kurs tersebut relatif tak stabil yang bakal mengganggu perencanaan kalangan pengusaha. Demikian disebutkan oleh Ketua Umum Kadin, Rosan Roeslani, di Jakarta, Selasa (8/1/2019).
“Bagi pengushaa kalau naiknya (rupiah) kekencengan serba salah, dan turunnya kekencangan juga serba salah. Pengennya itu stabil,” kata dia.
Dengan pergerakan rupiah yang liar itu dan mengarah terapresiasi, kata dia, menyulitkan pengusaha yang memiliki bisnis orientasi ekspor.
“Kalau terlalu kencang, kita mau ambil asumsinya yang mana? Mungkin bagi sebagian orang rupiah menguatnya kencang bagus, tapi bagi pengusaha tidak selalu kayak gitu. Bagi eksportir kita kurang happy,” ujarnya.
Dia mencontohkan pelaku bisnis komoditas batubara yang mulai mengeluhkan kurs yang terapresiasi ini. Semula memiliki asumsi kurs di Rp14.000-15.000 per USD, tapi sekarang mulai ke jalur Rp13.000.
“Kita maunya rupiah itu fluktuasinya yang tidak signifikan. Itu bagi pengusaha maunya seperti ini. Kita ingin lebih stabil antara Rp14.300-14.400,” ucapnya.
Meski begitu, dirinya juga mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang selama ini menjaga stabilitas rupiah. Sehinga kebijakan yang sudah baik terus dilanjutkan.
“Dulu hasil ekspor belum ada yang ngeh DHE yang dikonversi ke rupiah 85% dan yang ke sana (non rupiah) 15%. Dengan adanya itu jika dikonversi ke rupiah dan taruh di deposito ada ada insentif pajak,” ujar dia.
Dengan begitu, kata dia, ketergantungan terhadap USD tidak akan meninggi lagi. “Sekarang trading bisa menggunakan local currency itu hal positif yg terus berjalan. Ke depannya berjalan terus dan mata uang kita lebih kuat dan stabil,” kata Rosan.
Penulis: Tomy
