TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Hedging BUMN di BBJ Dongkrak Likuiditas Pasar

Achmad Adhito
10 January 2019 | 11:57
rubrik: Business Info
Hedging BUMN di BBJ Dongkrak Likuiditas Pasar

Ilustrasi: Istimewa

Jakarta, TopBusiness—PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) terus menggenjot transaksi derivatif agar semakin likuid dengan meningkatkan nilai dan volume transaksi, baik itu transaksi bilateral maupun multilateral.

Untuk itu, pihak BBJ pun berharap ada kontribusi dari perusahaan BUMN yang ikut menaikkan likuiditas tersebut, salah satunya melalui instrumen hedging (lindung nilai) BUMN yang disimpan di Bursa.

“Selama ini kami terus mengkomunikasikan ke pihak terkait untuk mempermudah BUMN hedging di BBJ. Seperti PTPN atau Pertamina. Itu untuk mengurangi risiko. Salah satunya risiko kurs,” ungkap Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang di Jakarta (9/1/2019).

Namun begitu, hal itu memang sulit untuk direalisasikan jika tak ada regulasi khusus yang menaunginya. Terutama dari Kementerian BUMN. Aturan ini menjadi penting untuk antisipasi risiko kerugian negara jika ada masalah.

Padahal, menurut dia, kalau semua BUMN melakukan hedging maka transaksi di BBJ juga akan semakin likuid lagi. “Pasti akan semakin likuid. Komoditinya juga kan banyak yang di-hedging. Ada olin, kakao, karet, kopi, teh, lada, dan banyak lagi,” katanya.

Selain PTPN, kata dia, perusahaan energi seperti PT Pertamina (Persero) sangat butuh hedging terkait produk minyaknya atau kursnya.

“Berapa banyak impor oil Pertamina? Kalau harga minyak dan Rupiah bergejolak jika di-hedging maka bisa meminimalkan risiko kurs terhadap APBN. Ini jadi lempar risk-nya,” jelas dia.

Dia memberi contoh, jika Pertamina memiliki kontrak minyak jutaan barel di saat kurs Rp15.000, tapi ketika tiba-tiba kurs menjadi Rp16.000, Pertamina tak perlu risau lagi.

“Karena harga BBM di masyarakat tetap sama dan tidak langsung ujug-ujug menaikkan harga karena ada hedging,” katanya.

Lebih jauh dia menegaskan, saat ini likuiditas di perdagangan BBJ memang masih rendah, maka dia terus berharap banyak pelaku pasar untuk lebih sering bertransaksi dengan kuantitas yang lebih banyak dan volume lebih besar.

BACA JUGA:   Kementerian PUPR Targetkan Tambahan 11 Ruas Jalan Tol Baru

“Disinilah peran pialang tak bisa dipisahkan dari peningkatan volume transaksi. Juga butuh dukungan kebijakan dari Bappebti dan para pelaku pasar yang semakin dewasa dalam berinvestasi,” pungkasnya.

Penulis: Tomy

Tags: bursa berjangka jakartahedging
Previous Post

Sahid Jaya Bangun Hotel di Beberapa Negara

Next Post

Siloam Komitmen Tetap Layani Pasien BPJS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR