Jakarta, TopBusiness – Bisnis ritel di awal tahun ini ternyata masih juga mengalami tekanan yang berat. Sehingga belum lama ini, kembali para bisnis ritel harus menutup usahanya karena tak lagi bisa bertahan hidup.
Setelah Group Hero menutup 26 gerainya di awal tahun ini, peritel lainnya seperti Central juga akan menutup salah satu lapaknya. Di tahun lalu, beberapa gerai ritel juga sudah banyak yang gulung tikar.
Menurut Tutum Rahanta, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), terjungkalnya bisnis ritel ini tak semata-mata kalah bersaing dengan bisnis yang dijalankan secara online, tapi yang utama justru terkait kebijakan pemerintah yang dianggap ikut mematikan bisnisnya.
“Mulai 2016 lalu kita sudah banyak tutup bisnis ritel. Tapi ada korelasi tidak dengan kebijakan pemerintah? Sangat ada. Kalau disebut banyak pindah ke online dan daya beli masyarakat menurun itu benar juga. Tapi kebijakan pemerintah sangat penting,” tandas Tutum di acara diskusi, di Jakarta, Rabu (16/1/2019).
Menurutnya, kondisi perekonomian di 2018 lalu sangat menggembirakan dan berefek ke perekonomiam internal. Akan tetapi yang menjadi masalah utama justru banyak regulasi yang memberatkan pelaku usaha hilir ini.
“Salah satunya banyak produk impor yang masuk. Bukan hanya untuk keperluan industri, tapi (produk impor) beredar di pasar. Sekarang produk impor membanjiri kita. China itu tak bisa lempar ke AS, akhirnya ke sini. Karena kita pasar yang besar,” kata dia.
Bahkan saat ini, kata dia, ada satu aturan yang sedang dibahas pemerintah kalau jadi digolkan akan sangat membahayakan bisnis ritel. “Saya rasa ini Presiden tak tahu. Tapi hanya dibahas di kaki-tangannya (menteri) saja,” katanya tanpa mau membocorkan rancangan kebijakan tersebut.
Dia juga menuntut keadilan terkait produk yang dijajakan di online dan offline. Agar terjadi playing field yang sama.
“Kami itu mau ada keadilan. Saat ini sudah ada pajak e-commerce yang baru. Itu bagus sekalipun telat. Juga ada kesamaan produk yang dijual itu diizinkan BP POM. Kalau tak sama itu akan jadi masalah dan membahayakan industri ritel,” cetusnya.
Lebih jauh dia menegaskan, terkait pola masyarakat yang banyak belanja di model online, baginya tak masalah jika daya beli masyarakat tetap tinggi.
“Kakau demand masyarakat besar, sekalipun ada online kita akan kebagian rejeki. Tapi kalau demand masyarakat kecil, kita akan akan susah dapat rejeki,” pungkasnya.
Penulis: Tomy
