Jakarta, TopBusiness – Keterlibatan anak usaha Lippo Group melalui PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) dalam pembangunan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dinilai membantu dalam program sejuta rumah yang digagas pemerintah.
Menurut pengamat properti, F Rach Suherman, peran Lippo Cikarang dalam pembangunan rumah murah sangat bermanfaat bagi masyarakat. “Selama ini banyak pengembang tak tertarik, karena margin di bisnis ini kecil,” kata dia di Jakarta, Selasa (5/02/2019).
Menurutnya, Lippo sebagai perusahaan properti dinilai tetap kuat dalam pengembangan bisnisnya, meksi digoyang dari kasus Meikarta. Apalagi, Lippo adalah pioner dalam memperoleh dana murah dalam pengembangan bisnis propetinya melalui REIT. Sehingga leluasa melakukan ekspansi.
Masalahnya, tekanan publik saat ini perlu dikelola dengan komunikasi pemasaran yang tidak biasa. “Mereka sedang mengalami musim gugur tetapi ada musim lain yang akan mampu dilalui,” ujar Suherman.
Pengalaman Lippo dalam pengembangan kota mandiri, lanjut dia, sudah tidak bisa diragukan lagi. Oleh karena itu, pembangunan kota mandiri tidak bisa mundur.
Kota mandiri adalah konsekuensi dari kemajuan kota-kota besar Indonesia yang harus didorong. Tetapi seyogyanya tak korbankan lahan produktif. Caranya, pemerintah mendorong perijinan yang berpihak kepada pembangunan vertikal melalui KLB yang besar (10-17), KDB yang terukur (40-50%) dan parameter yang lebih progresif untuk optimalisasi lahan.
Tahun ini, lanjut Suherman, bisnis properti akan rebound pasca pilpres April 2019. Namun demikian, tidak akan panjang. Di 2021 cenderung mengalami tekanan lagi karena banyak faktor mulai dari suku bunga hingga deregulasi perijinan yang mandeg.
Selain itu, hingga 2021 nanti akan ditandai dengan jenis-jenis properti yang uptrend (lowrise apartment, permintaan 3-4 kamar, logistic park/gudang mini dan co-working space/virtual office diluar CBD), dan downtrend (townhouse di Jabodetabek, kondotel, office grade C).
Selanjutnya, kata dia, kaum milenial belum akan menikmati insentif pasar, sehingga masih akan jadi penonton lagi. Daya beli yang masih rendah dan prioritas belanja yang belum ingin beli rumah, tidak akan membuat developer menyasar secara spesifik pangsa ini.
Karena itu, dirinya optimistis pasar properti masih tumbuh tetapi tidak impresif atau pertumbuhannya melandai seperti masa tahun 2010-2013 lalu.
Penulis : Tomy
