Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini akan berpotensi ditransaksikan di teritori negatif. Hal ini kemungkinan bakal dipicu oleh data inflasi AS yang dirilis semalam.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot pagi ini, mata uang NKRI itu dibuka di tangga 14.070 atau melemah 11 poin dari penutupan kemarin di posisi 14.059. Usai dibuka, rupiah masih melemah ke level 14.085 atau anjlok 0,18%.
Menurut analis pasar uang dari Monex Investindo Futures, Faisyal pada perdagangan hari ini rupiah akan ditransaksikan di zona merah. Kondisi ini dipicu laporan data inflasi AS. “Data inflasi AS tersebut bisa jadi akan membebani rupiah,” jelas dia di Jakarta, Kamis (14/2/2019).
Dari Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI), laju inflasi AS memang tetap tidak berubah alias datar dari bulan sebelumnya. IHK tercatat naik 1,6% untuk 12 bulan yang berakhir Januari, namun kenaikan tersebut ternyata yang terkecil sejak periode yang berakhir Juni 2017. Kondisi itu karena dipicu penurunan harga BBM yang mengikis kenaikan biaya makanan dan sewa.
Ditengaok dari sisi teknikal, kata dia, laju rupiah bergerak di bawah garis MA 50,100 dan 200. Kemudian indikator MACD di level 2,4, RSI masuk di area 55,58 dan stochastic di area 46,37. “Semua indikator ini menunjukkan potensi penguatan, namun bisa kembali turun karena hasil inflasi AS,” ujarnya.
Pada pedagangan sebelumnya, rupiah menguat karena dipicu faktor eksternal. Seperti, anggaran pembangunan tembok perbatasan AS dan Meksiko yang belum disepakati kongres, hal itu membuat tertekannya USD.
Selanjutnya, kata dia, perkembangan perang dagang yang dinilai akan berakhir positif jadi sentimen positif untuk penguatan rupiah.
Lebih jauh Faisyal menegaskan, dengan kondisi seperti itu, rupiah diproyeksi akan berada di rentang Rp 14.100 sampai Rp 14.120 per USD. “Sedang dalam sepekan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 13.950 sampai Rp 14.200 per USD,” pungkasnya.
Penulis: Tomy
