Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksikan masih akan mengalami pelemahan. Posisi rupiah yang berada di zona merah diakibatkan oleh sentiment global yang datang dari Amerika Serikat.
Memgutip Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka di level Rp14.101 atau melemah 32 poin dari penutupan kemarin di tangga Rp14.069. Bahkan tren rupiah juga terus memerah dalam satu jam pertama ke posisi Rp14.108.
Menurut analis pasar uang dari Monex Investindo, Dini Nurhadi Yasyi menegaskan, laju rupiah itu lebih dipicu oleh ketidakpastian negosiasi perang dagang AS-China. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap negara emerging market seperti Indonesia.
Seperti diketahui, pada hari Minggu (24/2/2019) kemarin, Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menunda pengenaan tarif bagi produk impor asal Tiongkok itu. Padahal mestinya berlaku pada Jumat (1/3/2019) ini.
“Jadi isu perang dagang selalu jadi ketakutan buat negara emerging market, seperti Indonesia. Makanya, perang dagang ini pun akan menjadi sentiment negatif bagi rupiah. Apalagi aktivitas ekonomi China sanagt berkaitan dengan kita,” paparnya, di Jakarta, Jumat (1/3/2019).
Selain itu, laju rupiah hari ini juga akan sangat terefek oleh kondisi pertumbuhan ekonomi AS yang mencapai 2,9% sepanjang tahun lalu. Ini tentu lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang pernah dilontarkan pemerintah AS yakni di angka 3%. Sehingga kondisi tersebut membuat USD menguat.
Namun begitu, dia menyebut, pelaku pasar pun sangat tergantung terhadap sentiment dari dalam negeri. Salah satunya terkait laju inflasi Februari 2019 yang diumumkan hari ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Dengan kondisi tersebut, Dini memproyeksi pergerakan mata uang NKRI Itu akan berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp14.115. “Akan tetapi dengan kecenderungan menguat,” pungkasnya.
Penulis: Tomy
