Jakarta, TopBusiness – Perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat dan China dianggap akan sangat mengganggu kondisi industri di Negeri Tirai Bambu itu.
Hal itu tentu berdampak dengan negara mitra dagang seperti Indonesia yang selama ini banyak memasok produk tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit ke sana. Dengan begitu di tahun ini sektor industri tersebut jadi akan ikut terganggu.
Hal ini disampaikan oleh ekonom senior dari Creco Consulting, Chatib Basri di acara Diskusi Ekonomi dan Politik: Menyikapi Dinamika Tahun Politik di 2019, yang digelar Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), di Jakarta seperti ditulis Jumat (15/3/2019).
“Dampak terbesar dari trade war ini tentu China. Kalau begitu, berarti Indonesia akan kena juga. Sektor mana yang terkena? Batubara dan kelapa sawit yang akan terkena,” jelas dia.
Menurutnya, dari ekspor Indonesia ke China selama ini sebanyak 40 persennya berasal batubara dan kelapa sawit.
“Sehingga implikasi yang sangat terasa di sektor natural resources yang tahun lalu booming. Hal ini juga akan terefleksi ke harga sahamnya,” kata mantan Menteri Keuangan itu.
Dengan kondisi itu, kata dia, posisi transaksi neraca berjalan akan semakin defisit (current account defisit/CAD).
“Karena kondisi itu juga akan terkena dari aspek pajaknya dari sektor itu. Tahun lalu soal mining itu optimis, mungkin tahun ini orang akan kurangi untuk investasi di coal,” jelasnya.
Penulis: Tomy
