Jakarta, TopBusiness – Emiten produsen pakaian jadi, PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) mengaku telah menganggarkan belanja modal (capital expanditure/capex) di tahun ini bersumber dari hasil penawaran saham perdana (IPO) yang masih tersisa.
“Total capex tahun ini kami alokasikan Rp12 miliar. Semuanya dari sisa dana IPO yang akan kami belanjakan di 2019 ini,” kata Direktur Utama BELL, Karsongno Wongso Djaja, usai RUPST BELL di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (29/4/2019).
Dia mengungkapkan, dana capex tersebut akan dimanfaatkan untuk merevitalisasi mesin produksi dengan menggantikan 20 unit mesin produksi yang lama dengan membeli mesin baru sebanyak 12 unit dengan kapasitas produksi yang lebih besar.
“Sebelumnya sebanyak 20 unit mesin lama itu memiliki output sebanyak 80.000 yards per bulan. Tetapi, dengan 12 unit baru ini output-nya bisa mencapai 108.000 yards per bulan,” ujar Karsongno.
Lebih jauh dia menegaskan, kinerja perseroan di tahun lalu sendiri cukup bagus, untuk itu BELL sendiri optimistis target di tahun ini bisa tercapai.
Sepanjang 2018, penjualan terbesar (94,38%) berasal dari pasar lokal yang mencapai Rp529,86 miliar atau naik 25% dari 2017 di angka Rp423,69 miliar. Sisanya dari ekspor juga naik 40,41% menjadi Rp31,51 miliar dari Rp22,44 miliar.
“Untuk produk seragam masih menjadi andalan BELL dengan berkontribusi ke penjualan Rp291,86 miliar atau Rp51,99%. Sehingga di tahun ini uniform tetap masih dominan,” jelasnya.
Dia menambahkan, pada tahun ini BELL menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5%. Dengan segmen usaha distribusi dan segmen manufaktur masing-masing akan bertumbuh 5%. “Sedang untuk seragam tetap menyumbang 50% ke penjualan,” ucap dia.
Dengan demikian, jelanya, pada tahun ini laba bersih BELL akan bertumbuh sebesar 7 persen dari perolehan di 2018 yang mencapai Rp24,02 miliar. RUPST BELL sendiri menyetujui pembagian dividen Rp5,75 miliar atau sebesar 24 persen dari laba bersih 2018 yang setara dengan Rp3,5 per saham.
Di tempat yang sama, Direktur Independen BELL, Handi Suwarto mengatakan, perseroan berkomitmen untuk menjajaki lini produk dan peluang investasi baru untuk mempertahankan kinerja positif yang berkelanjutan.
“Dengan mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5-5,4% dan inflasi sekitar 2,5-4,5%, kami berencana kembali melakukan investasi di mesin weaving untuk menciptakan variasi produk, efisiensi dan kualitas,” papar Handi.
Dia mengatakan, katalis positif lain yang akan menopang kinerja perseroan ada pada dukungan Kementerian Perdagangan yang akan memfasilitasi industri tekstil dan produk tekstil ekspansif. Dukungan tersebut berupa kemudahan mendapatkan mesin dan barang modal serta jaminan akses ketersediaan bahan baku.
(Tomy)
